Menanti Sentuhan di Taman Endog Sumedang, Ikon Kota yang Mulai Kehilangan Kilau

Taman Endog Sumedang
KUMUH: Kondisi area Taman Endog di pusat Sumedang terlihat kurang terawat, dengan rumput meninggi dan sejumlah sudut taman yang tampak tidak tertata, Rabu (4/3).(Ahmad/Sumeks)
0 Komentar

ANGIN tipis menyapu rumput yang tumbuh tak lagi seragam. Di beberapa sudut, dedaunan kering menumpuk, menyisakan kesan yang berbeda dari wajah taman Endog yang dulu dikenal rapi dan bersih.

Di sinilah warga Sumedang biasa melepas penat. Anak-anak berlari kecil, keluarga menggelar tikar, remaja duduk berderet menatap lalu lalang kendaraan di Jalan Mayor Abdurahman. Taman yang juga akrab disebut Taman Telur itu pernah menjadi simbol ruang publik yang hidup: sederhana, tapi hangat.

Kini, cerita itu seperti sedikit memudar.

Yuni, pedagang yang sudah lama berjualan di sekitar taman, menyaksikan perubahan itu pelan-pelan. Ia masih membuka lapaknya seperti biasa. Masih menyapa pembeli dengan senyum yang sama. Tapi suasana, katanya, tidak lagi persis seperti dulu.

Baca Juga:Awasi Kualitas Makanan Anak, MBG Sumedang Diminta TransparanIroni Gerbang Kota: Tugu Selamat Datang Sumedang di Ciherang Kumuh dan Terbengkalai

“Kurang bersih, tidak terawat, tidak seperti dulu,” ucapnya lirih kepada Sumeks, Rabu (4/3).

Yang ia maksud bukan perubahan besar yang mencolok. Justru hal-hal kecil: rumput yang dibiarkan meninggi, sudut taman yang tampak kurang tersentuh, dan kesan kusam yang perlahan muncul. Bagi sebagian orang mungkin sepele. Tapi bagi mereka yang setiap hari berada di sana, perbedaan itu terasa.

Taman kota, pada dasarnya, bukan sekadar hamparan hijau. Ia adalah ruang temu. Tempat orang berbagi cerita, tertawa, bahkan diam bersama. Saat perawatannya berkurang, yang hilang bukan hanya estetika melainkan rasa nyaman.

Namun Yuni tak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Ia tahu, menjaga taman bukan perkara satu pihak saja.

“Kadang ada yang peduli, kadang tidak,” katanya, menyinggung soal kesadaran pengunjung.

Di sela keluhan itu, taman tetap hidup. Sore hari, bangku-bangku masih terisi. Anak-anak tetap berlarian. Beberapa keluarga masih memilih duduk lesehan, membuka bekal, berbagi cerita kecil sebelum matahari tenggelam.

“Kalau buat makan dan nongkrong sama anak masih nyaman,” tambah Yuni.

Baca Juga:Krisis Bahlil1.657 Pelajar Ikuti Pesantren Kilat Ramadan di Masjid Agung Sumedang, 79 Pembimbing Diterjunkan

Barangkali, itulah kekuatan sebenarnya Taman Endog. Ia belum ditinggalkan. Ia hanya menunggu disentuh kembali dirawat dengan konsisten, ditata dengan hati, dijaga bersama.

Karena ikon kota bukan hanya tentang bentuk atau nama. Ia tentang kenangan. Tentang rasa memiliki. Dan tentang harapan agar ruang sederhana di tengah kota itu tetap menjadi tempat pulang bagi warganya.(cla)

0 Komentar