Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan

Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan
Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Sehari setelah suasana penuh syukur dalam tradisi Nyuguh Ageung, Keraton Sumedang Larang kembali menghadirkan denyut tradisi leluhur, Jumat (14/8).

Ratusan orang memadati kawasan Alun-alun Sumedang. Mereka datang menyaksikan rangkaian Kirab Alit dan Jamasan Pusaka, tradisi yang setiap tahun digelar Keraton Sumedang Larang, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada pusaka yang diturunkan dari gedung pusaka. Kemudian dibawa dalam kirab kecil mengelilingi kawasan alun-alun. Setelah itu, pusaka-pusaka tersebut menjalani prosesi jamasan atau pembersihan.

Baca Juga:Nyuguh Ageung di Tengah Malam Saat Tradisi dan Rasa Syukur Bersatu PaduProses Pemotongan Pipa sedang Berlangsung, Yadi: Mudah- mudahan Sebentar Lagi Tuntas

Bagi Keraton Sumedang Larang, prosesi itu bukan sekadar ritual membersihkan benda-benda peninggalan leluhur.

Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga menyebut, jamasan pusaka merupakan tradisi rutin yang sarat makna.

“Jamasan pusaka ini merupakan kegiatan rutin Keraton Sumedang Larang. Sebelumnya, Kamis (13/8/2026), diawali dengan Nyuguh Ageung sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia,” ujar Luky di sela-sela acara.

Dari sana, kata Lucky, rangkaian tradisi bergerak dari simbol syukur menuju refleksi diri.

Pusaka yang dibersihkan menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya benda yang harus dijaga secara fisik. Ada nilai, sejarah dan pesan kehidupan yang ikut diwariskan di dalamnya.

Luky mengatakan, setidaknya ada dua makna utama yang ingin disampaikan melalui Jamasan Pusaka.

Pertama, menjaga agar pusaka-pusaka peninggalan Keraton Sumedang Larang tetap terawat dan lestari.

Baca Juga:Perbaikan Pipa GI 12 Inci Masuk Titik Ketiga, Jalan Pangeran Geusan Ulun Masih DibongkarTerpilih Pimpin PWI Jabar, Tantan Sulthon Gaungkan Rekonsiliasi dan Rangkul Kubu Rival

“Kedua, menjadikannya sebagai simbol bagi manusia untuk terus membersihkan hati dan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Luky.

Setelah pusaka selesai dijamas, tradisi belum berhenti.Masyarakat kemudian mengikuti Kobulan.

Hasil bumi yang sebelumnya dikumpulkan dari kerabat dan masyarakat adat dibagikan kepada para undangan dan masyarakat.

Suasana pun berubah menjadi ruang kebersamaan.

Tidak hanya kerabat keraton dan masyarakat adat yang hadir. Lebih dari 500 orang diperkirakan ikut meramaikan rangkaian kegiatan tersebut.

Mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada masyarakat adat, budayawan, kerabat Keraton Sumedang Larang, unsur Forkopimda Kabupaten Sumedang, hingga komunitas Tionghoa Indonesia.

Yang menarik, jejak tradisi itu juga menarik perhatian masyarakat dari luar Sumedang.Ada tamu yang datang dari Tangerang, Garut, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, bahkan Sulawesi.

0 Komentar