Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan

Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan
Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan Ketakwaan
0 Komentar

“Yang hadir tadi dari masyarakat adat, budayawan, juga Forkopimda Kabupaten Sumedang. Ada juga dari komunitas Tionghoa Indonesia dan unsur masyarakat lainnya,” tutur Luky.

“Selain dari Sumedang, ada yang datang dari Tangerang, Sulawesi, Garut, Bandung, Tasik, Cirebon dan daerah lainnya di Tatar Jawa Barat,” sambungnya.

Keraton Sumedang Larang pun kembali menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus tinggal sebagai cerita masa lalu.

Baca Juga:Nyuguh Ageung di Tengah Malam Saat Tradisi dan Rasa Syukur Bersatu PaduProses Pemotongan Pipa sedang Berlangsung, Yadi: Mudah- mudahan Sebentar Lagi Tuntas

Ia bisa hadir di tengah masyarakat. Disaksikan banyak orang. Dijalankan lintas generasi dan bahkan menarik perhatian mereka yang datang dari luar daerah.

Dan di tengah derasnya perubahan zaman, Kirab Alit dan Jamasan Pusaka menjadi semacam pengingat.

Bahwa merawat pusaka bukan hanya soal menjaga benda warisan leluhur.

Tetapi juga merawat ingatan, kebudayaan, kebersamaan dan nilai spiritual yang menyertainya.

“ Mudah-mudahan kita menjadi manusia-manusia yang paripurna sesuai dengan ajaran Rasulullah,” ucap Luky.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan aman.

Tradisi yang berbalut budaya dan religi itu pun kembali menjadi bagian dari perjalanan panjang Keraton Sumedang Larang dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menghidupkan nilai-nilai Maulid Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat. (red)

0 Komentar