Aspirasi, Paket dari Warung Kopi ke Gedung Dewan

Aspirasi, Paket dari Warung Kopi ke Gedung Dewan
Aspirasi itu mirip paket kiriman. Bedanya, kalau paket salah alamat bisa dikembalikan ke kurir.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Aspirasi itu mirip paket kiriman. Bedanya, kalau paket salah alamat bisa dikembalikan ke kurir.

Sementara aspirasi rakyat sampai ke pejabat atau anggota dewan, bisa dikurangi atau dilebihkan. Kalau rakyat bilang “jalan rusak”, bisa diterjemahkan jadi “butuh jalan tol baru”. Itu namanya aspirasi dipoles jadi proyek.

Di warung kopi, aspirasi gampang: tinggal teriak ke barista, “Mas, kopinya kurang manis!” langsung ditambah gula. Rakyat kecil pesan “kopi hitam tanpa gula”, sampai ke meja pejabat bisa berubah jadi “latte art berbentuk hati”.

Baca Juga:Sri Sultan Hamengkubuwono X: Indonesia Butuh Insan Pertanahan yang Mampu Baca Peta Sekaligus Memahami ManusiaBertahun-tahun Dinanti, Warga Licin Gelar Syukuran Usai Jalan Ciburial Kini Mulus 'Leucir'

Padahal yang diminta sederhana, tapi sampai di tangan penguasa sudah penuh ornamen.

Di ruang dewan pun sama, aspirasi harus lewat prosedur panjang: isi formulir, tanda tangan, stempel, harus pakai surat pengantar RT dan bahkan kadang disertai air mata.

Akhirnya rakyat lebih suka curhat di media sosial. Di sana, aspirasi jadi trending topic, meski kadang lebih mirip konser dangdut: riuh, gaduh, dan sulit diverifikasi.

Pejabat dan anggota dewan sejatinya tak beda jauh dengan jasa ekspedisi. Tugasnya mengantar aspirasi rakyat kecil.

Tapi telinga mereka sering tertutup “bubble wrap” kepentingan. Akibatnya, suara rakyat terdengar sayup-sayup, macam radio tua yang antenanya patah.

Kalau pun ada yang berani bersuara, biasanya bukan demi rakyat, melainkan demi negosiasi kursi/kepentingan.

Kalau pakai teori Habermas, ruang publik itu tempat rakyat ngobrol bebas. Demokrasi sehat itu lahir dari komunikasi rasional di ruang publik, di mana suara rakyat bisa didengar tanpa distorsi, macam ngobrol di warung kopi.

Baca Juga:Masuki Babak Baru, Politeknik Agraria STPN Resmi Diluncurkan oleh Menteri ATR/Kepala BPNBupati Dony Ajak Peserta Jalan Santai Jemput Kebahagiaan Lewat Bersyukur

Tapi di negeri kita, ruang publik sering berubah jadi ruang tunggu- aspirasi menunggu sampai basi.

Aspirasi itu senjata rakyat kecil. Kritik, keluhan, permohonan—semua adalah peluru kata.

George Orwell sudah bilang dalam 1984: ketika suara dibungkam, despotisme makin kuat. Aspirasi yang tak tersampaikan bukan sekadar kehilangan hak bicara, tapi juga kehilangan hak untuk bermimpi.

Bahkan Antonio Gramsci sampai ngomel, dominasi bukan cuma soal kekuasaan fisik, tapi juga hegemoni ide. Aspirasi rakyat sering dipelintir jadi slogan manis penguasa. “Kami dengar suara rakyat,” katanya.

0 Komentar