Samalengoh Camp Gunturmekar, Camping di Alam yang Ingin Hidupkan Ekonomi Warga

Samalengoh Camp
SAMALENGOH CAMP: Kawasan Samalengoh Camp di Desa Gunturmekar dikembangkan sebagai wisata camping berbasis alam dengan tetap mempertahankan identitas lokal dan melibatkan masyarakat sekitar.(Kiki/Sumeks)
0 Komentar

Pilihan tersebut membuat Samalengoh Camp lebih menempatkan kualitas pengalaman dan keberlanjutan lingkungan sebagai pertimbangan dalam pengelolaan wisata.

Sejumlah fasilitas telah tersedia, antara lain enam kamar mandi, dua toilet, mushola, warung, sekretariat, gudang serta area penyewaan perlengkapan camping.

Pengunjung juga dapat memilih tenda VIP maupun tenda reguler.

Bisa Pesan Nasi Liwet hingga Barbecue

Untuk kebutuhan konsumsi, Samalengoh Camp belum menyediakan restoran permanen. Namun, pengunjung tetap dapat memesan makanan melalui sistem booking.

Baca Juga:Cara Daftar Bansos Lewat Perlinsos Digital di Sumedang, Siapkan IKDSumedang Jadi Uji Coba Perlinsos Digital, Warga Bisa Daftar Bansos Secara Mandiri

Pilihan makanan antara lain nasi liwet dan barbecue. Peralatan memasak juga dapat disediakan bagi pengunjung yang ingin menyiapkan makanan sendiri.

Konsep tersebut sengaja dipertahankan agar Samalengoh Camp tetap memiliki karakter sebagai kawasan camping, bukan berubah menjadi rumah makan umum.

Untuk operasional, pada hari biasa kawasan tersebut buka pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. Sementara Jumat, Sabtu dan Minggu, layanan camping dapat berlangsung selama 24 jam.

Pada musim liburan, operasional dapat berlangsung lebih lama menyesuaikan tingkat kunjungan. Sementara pada periode sepi, pengelola melakukan efisiensi dengan lebih banyak membuka kawasan pada akhir pekan.

Tiket Mulai Rp10 Ribu

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, tiket kunjungan biasa dipatok Rp10.000 per orang. Sementara tiket untuk camping dikenakan Rp20.000 per orang.

Pengelolaan Samalengoh Camp saat ini melibatkan sekitar sembilan orang. Mereka terdiri atas enam petugas, dua petugas tiket dan pengelola.

Jumlah tersebut diharapkan dapat bertambah seiring berkembangnya destinasi wisata.

Ingin Libatkan Lebih Banyak Warga

Bagi Dadan, perkembangan Samalengoh Camp tidak cukup jika hanya meningkatkan jumlah pengunjung. Keberadaan destinasi tersebut diharapkan ikut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Gunturmekar.

Baca Juga:Sejumlah Proyek Tertunda, Pemdes Kebonjati Sumedang Kembali Bidik Infrastruktur pada 2027Jadwal SIM Keliling Sumedang 5 Oktober 2026, Cek Lokasi dan Persyaratannya

Masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengelolaan maupun menciptakan produk ekonomi baru yang mendukung aktivitas wisata, seperti usaha makanan dan minuman.

“Harapannya orang Desa Gunturmekar bisa bekerja langsung atau menciptakan produk ekonomi baru, seperti tempat makan dan minum. Semakin banyak yang bergerak, semakin banyak yang bisa berkolaborasi dengan desa-desa tetangga,” tutur Dadan.

Menurut dia, semakin berkembangnya Samalengoh Camp diharapkan menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di lingkungan sekitar.

0 Komentar