Samalengoh Camp Gunturmekar, Camping di Alam yang Ingin Hidupkan Ekonomi Warga

Samalengoh Camp
SAMALENGOH CAMP: Kawasan Samalengoh Camp di Desa Gunturmekar dikembangkan sebagai wisata camping berbasis alam dengan tetap mempertahankan identitas lokal dan melibatkan masyarakat sekitar.(Kiki/Sumeks)
0 Komentar

GUNTURMEKAR – Menikmati suasana alam sambil berkemah menjadi pengalaman yang ditawarkan Samalengoh Camp di Desa Gunturmekar.

Destinasi wisata ini tidak hanya mengandalkan suasana alam, tetapi juga mempertahankan identitas lokal dan membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk ikut bergerak secara ekonomi.

Samalengoh Camp mulai dibangun pada 2020 dan resmi dibuka pada 6 Agustus tahun yang sama. Namun, gagasan pengembangan kawasan tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2018.

Baca Juga:Cara Daftar Bansos Lewat Perlinsos Digital di Sumedang, Siapkan IKDSumedang Jadi Uji Coba Perlinsos Digital, Warga Bisa Daftar Bansos Secara Mandiri

Pendiri Samalengoh Camp, Dadan Setianugraha, mengatakan persiapan dilakukan cukup panjang. Pengelola terlebih dahulu mengamati kondisi kawasan, termasuk mengujinya ketika musim hujan.

“Kita coba tempatnya, kita cek saat hujan dan sebagainya. Jadi persiapannya hampir dua tahun sebelum membuka wisata Samalengoh,” kata Dadan saat diwawancarai Sumeks, Minggu 4 Oktober 2026.

Nama Samalengoh Berasal dari Identitas Lokal

Nama Samalengoh bukan sekadar nama destinasi. Nama tersebut diambil dari identitas yang telah dikenal masyarakat di kawasan tersebut.

Menurut Dadan, bukit lokasi wisata tidak memiliki satu nama resmi. Masyarakat mengenalnya dengan sejumlah sebutan, seperti Salamengoh, Samalengoh hingga Pasir Kiara.

Nama Samalengoh kemudian dipilih karena terdapat mata air yang dikenal sebagai Mata Air Samalengoh. Mata air tersebut mengalir dari kawasan puncak hingga Nagrak.

Nama itu juga memiliki cerita tersendiri bagi para penggagas wisata. Ketika pembangunan dimulai, sebagian besar anggota karang taruna yang terlibat merupakan anak muda yang belum menikah.

“Mayoritas belum menikah, jadi sama-sama lengoh. Itu juga menjadi salah satu filosofi nama Samalengoh,” ujar Dadan.

Baca Juga:Sejumlah Proyek Tertunda, Pemdes Kebonjati Sumedang Kembali Bidik Infrastruktur pada 2027Jadwal SIM Keliling Sumedang 5 Oktober 2026, Cek Lokasi dan Persyaratannya

Pengelola memilih mempertahankan nama tersebut agar identitas lokal tidak hilang meski konsep wisata yang ditawarkan menggunakan istilah camping.

“Produk kita memang camping, bukan produk lokal. Camp itu bahasa Inggris, tetapi Samalengoh adalah identitasnya sendiri,” katanya.

Pengunjung Dibatasi demi Menjaga Alam

Samalengoh Camp saat ini memiliki kapasitas camping sekitar 20 orang. Jumlah tersebut sengaja dibatasi dengan mempertimbangkan kondisi kawasan dan kelestarian lingkungan.

Dadan mengatakan pengelola pernah mendapat tawaran untuk menerima hingga sekitar 500 orang. Namun, tawaran tersebut tidak diambil karena jumlah pengunjung yang terlalu banyak dinilai dapat memberikan tekanan terhadap kawasan.

0 Komentar