Akhir Kritisisme

Akhir Kritisisme
Umpama, seorang bayi yang menyerahkan seluruh hidupnya -menangis, tertawa, makan,minum semua diurus ibunda tercinta. Begitupun saat ini, kita dengan rela menyerahkan akal-mental kita ke mesin pintar. Bedanya, ibunda kita penuh kasih sayang, sementara mesin hanya algoritma dingin yang menghitung klik dan data. 
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Umpama, seorang bayi yang menyerahkan seluruh hidupnya -menangis, tertawa, makan,minum semua diurus ibunda tercinta. Begitupun saat ini, kita dengan rela menyerahkan akal-mental kita ke mesin pintar. Bedanya, ibunda kita penuh kasih sayang, sementara mesin hanya algoritma dingin yang menghitung klik dan data.

Sejak artificial intellegence – AI nongol, hidup terasa seperti warung serba ada. Mau apa saja, tinggal ketik, langsung keluar. Tak perlu kening berkerut, tak perlu kopi pahit untuk mikir. Semua bisa disediakan mesin. Maka dengan sadar, kita menyerahkan hidup ini kepadanya. Jadilah AI -sang joki pikiran, penguasa mental tanpa seragam, penjajah pikiran yang tak perlu pasukan.

Algoritma yang mengatur apa yang kita pikirkan, memutarbalikkan rasa-pikiran sesuai preferensi kita. AI melahirkan kesadaran buatan yang tak mengenal rasa dan etika.

Baca Juga:Razia Kos, Kratom dan Tramadol DisitaPonpes Annur Dilalap Api Pastikan Tak ada Korban Kerugian Ditaksir Ratusan Juta 

Renald Gesnot sudah berteriak: hati-hati, AI bisa bikin kita cognitive offloading—akal dilepas, pikiran diserahkan ke mesin, dalam “The Impact of Artificial Intelligence on Human Thought” (2025). Ia mengingatkan, algoritma membangun penjara pikiran bernama filter bubble. Kita dikurung dalam ruang sempit, hanya disuguhi konten sesuai kebiasaan. Akibatnya, pikiran kita homogen, perspektif alternatif ditolak. Penjara pikiran yang menolak dan tak mau melihat perspektif atau alternatif berbeda. Akibatnya kita terjebak pada isolasi intelektual dan tak kritis. Inilah yang diingatkan Gesnot, bahaya manipulatik algoritmik dan disinformasi otomatis.

Kemampuan sang waralaba pikiran – AI yang hampir tanpa batas melahirkan keterpesonaan kita. Kita pun menyerahkan diri dengan bulat-bulat pada mesin. Itulah yang disebut magical thinking-nya David Morris. Dalam tulisannya “Magical Thinking and the Test of Humanity: We Have Seen the Danger of AI and It Is Us”2024, David Morris sesumbar, kalau manusia menyerahkan semua pada koki instan pikiran dan percaya mesin lebih bijak daripada akal sehat, ia bisa berubah jadi makhluk magical thinking. Sama seperti orang kampung yang percaya dukun bisa menggandakan uang, akhirnya yang digandakan cuma rasa kecewa.

Padahal data di AI itu bias dan bisa berpotensi manipulatif, tidak akuntable dan mematikan daya kritis mental-akal. Bahaya terbesar bukan pada AI itu sendiri, kata Morris, melainkan pada manusia yang terlalu percaya. Maka Morris mengingatkan: hadirkan kesadaran reflektif, jangan bersikap magis pada teknologi.

0 Komentar