Akhir Kritisisme

Akhir Kritisisme
Umpama, seorang bayi yang menyerahkan seluruh hidupnya -menangis, tertawa, makan,minum semua diurus ibunda tercinta. Begitupun saat ini, kita dengan rela menyerahkan akal-mental kita ke mesin pintar. Bedanya, ibunda kita penuh kasih sayang, sementara mesin hanya algoritma dingin yang menghitung klik dan data. 
0 Komentar

Merenggut pikiran Gesnot, pikiran kita makin homogen, seperti nasi kotak seminar: lauknya standar, sambalnya sama, dan rasanya bisa ditebak. Kita harus belajar berpikir antisipatif, bukan sekadar reak%MCEPASTEBIN%%MCEPASTEBIN%tif. Kalau tidak, kita akan jadi penonton pasif dalam bioskop besar bernama “Era AI”.

AI itu piaraan kita yang tak berjiwa. Jangan sampai kita yang dipiara algoritma yang menentukan kehidupan kita. Wayang yang mendorong kita pada dunia imersif – dunia maya yang menelan kita bulat-bulat (fisik dan rasa kita), yang seolah nyata. Ibarat kampung buatan di dunia maya. Kita masuk ke sana, merasa jadi warga, ikut ronda, bahkan bisa nongkrong di pos kamling digital. Bedanya, malingnya bukan pencuri ayam, tapi pencuri data. Imersif seolah bikin hidup lebih cepat dan nyaman, tapi ujung-ujungnya bikin kita bayar mahal, tersesat di pintu keluar, dan tetap macet di dunia nyata.

Jadi, miara “mahkluk AI” bukan berarti manusia jadi pintar. Bisa jadi malah manusia berhenti berpikir, menyerahkan otaknya pada algoritma, lalu sibuk selfie dengan hasil kerja mesin.

Baca Juga:Razia Kos, Kratom dan Tramadol DisitaPonpes Annur Dilalap Api Pastikan Tak ada Korban Kerugian Ditaksir Ratusan Juta 

AI memang bisa jadi guru baru, tapi jangan sampai kita jadi murid yang malas. Kalau pikiran kritis sudah tamat, jangan diganti dengan pikiran instan ala mie seduh. Mari belajar berpikir kritis, reflektif, dan sedikit nakal—sebab tanpa kenakalan intelektual, dunia hanya akan penuh dengan jawaban mesin yang terlalu lurus, terlalu patuh, dan terlalu membosankan. Seperti pikiran nakal; bisa jadi kita akan menjadi budak wayang pintar AI, padahal kita lah dalangnya!

Atau “kenapa oligarkhi dan otoritarianisme terus bercokol? Kenapa korupsi terus berkembang? Kenapa kepekaan kita tumpul? Kenapa kebakaran hutan terus menerus terjadi hampir 20 tahun ini? Coba tanyakan kepada AI – jawabannya mungkin cepat, tapi apakah ia benar-benar peduli? s (Kang Marbawi, 191026)

0 Komentar