Mitelor

pojokan
pojokan
0 Komentar

Lagi-lagi tentang anak lanangku. Mohon maaf kalau terkesan narsis. Tetapi di negeri yang setiap hari menyajikan drama politik, sinetron korupsi, dan serial pinjaman online tanpa tamat musim, rasanya percakapan dengan anak sendiri masih merupakan berita paling menenangkan.

Sebenarnya tadi sore saya berniat menulis soal pinjol. Soal outstanding pembiayaan telah mencapai sekitar Rp80 triliun dengan akumulasi pinjaman daring (Pindar) alias Pinjol (Pinjaman online) yang mencapai Rp1.100 triliun. Dengan konsumen terbesar adalah masyarakat bawah; pekerja informal, masyarakat miskin perkotaan, UMKM mikro,dan kelompok rentan yang memiliki pendapatan tidak stabil. Soal masyarakat yang kini bukan lagi warga negara, melainkan warga cicilan.

Dulu orang ditanya cita-cita.

“Mau jadi apa kalau besar?”

Sekarang pertanyaannya bergeser:

“Limitnya berapa?”

Pinjol telah melahirkan spesies sosial baru: Homo Debitorius. Makhluk modern yang bangun tidur membuka aplikasi utang, siang menghitung jatuh tempo, malam mendengarkan lagu penagihan.

Baca Juga:Jelang Pilkades 2026, Forkopimcam Cimanggung Temui Calon Kades di Empat DesaIrigasi Dam Cipetey Sukamantri Tanjungkerta Disorot, Petani Butuh Pengairan Lancar

Konon inklusi keuangan semakin luas. Memang luas. Bahkan lebih luas dari lapangan bola. Yang belum punya tabungan bisa punya utang. Yang tidak punya agunan bisa punya tagihan. Yang tidak kenal bank kini akrab dengan bunga harian.

Ah sudahlah.

Itu urusan para penggede negeri. Orang macam saya paling mentok hanya bisa menghitung harga telur dan denyut WhatsApp yang kadang lebih menegangkan daripada pengumuman hasil ujian.

Maka saya memilih menyelamatkan malam dengan cara yang lebih masuk akal: rebahan bersama anak lanangku.

Seperti biasa, menjelang tidur ia mulai bercerita. Imajinasi anak memang ajaib. Tanpa rapat koordinasi, tanpa seminar nasional, tanpa FGD tiga hari dua malam, tiba-tiba ia bicara soal meteor.

Entah dari mana dia mengenal kata itu.

Tapi yang jelas, ia menyebutnya bukan meteor.

“Metleor.”

Saya tersenyum.

“Bukan metleor, Nak. Meteor.”

Ia mencoba lagi.

“Metleor.”

Saya mencoba membantu lagi.

“Meteor.”

Dia menatap saya dengan wajah serius, lalu berkata,

“Mitelor.”

Selesai sudah pelajaran astronomi malam itu.

Kami bertiga tertawa di atas kasur yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding luas imajinasi seorang anak.

0 Komentar