oleh

Dataran Tinggi Wado Potensial Jadi Sentra Komoditas Kopi

SUMEKS, Wado – Pemerintah Kecamatan Wado Kabupaten Sumedang serius akan menjadikan kawasan hutan di wilayahnya menjadi sentra komoditas kopi.

Adanya sejumlah kelompok tani yang kini berkonsentrasi mengembangkan komoditas kopi, menjadi modal untuk menjadi tolok ukur pengembangan komoditas kopi selanjutnya.

“Kami sudah melakukan dialog dengan kelompok tani yang menanam kopi asal Desa Ganjaresik beberapa waktu lalu. Dari hasil dialog, potensinya sangat besar dan perlu dukungan untuk pengembangannya,” ujar Camat Wado H Sutisna SPd MSi, Selasa (14/9).

Sutisna mengatakan, kawasan hutan, terutama di kaki Gunung Cakrabuana, meliputi Desa Cimungkal, Ganjaresik dan Desa Sukajadi, merupakan kawasan perkebunan potensial yang selama ini jadi tempat mata pencaharian warga di tiga desa tersebut.

Khusus untuk komoditas kopi, kata dia, kini sudah tertanam di wilayah Ganjaresik dengan luasan sekitar 40 hektar dan wilayah Cimungkal dengan luasan dibawah 20 hektare. Masing-masing kawasan tanaman kopi telah dikelola oleh kelompok tani setempat.

“Untuk yang kelompok tani Temu Hurip di Ganjaresik malah sudah lengkap dari mulai proses penyemaian hingga pengolahan akhir dilakukan oleh kelompok. Pengolahannya sudah dilengkapi dengan mesin-mesin pengolah yang memadai. Produksinya pun telah banyak dipasarkan,” tutur Sutisna.

Di menuturkan, kelompok tani kopi telah mampu memberdayakan puluhan warga petani setempat. Sebab, selain menanam komoditas kopi mereka juga menanam tumpang sari yang bisa dipanen dalam jangka pendek.

Kembali ke rencana pengembangan komoditas kopi, Sutisna menyebutkan, atas dasar masukan dari kelompok tani, pihaknya akan mendorong pembentukan sejumlah kelompok petani kopi di ketiga desa, yang wilayahnya berada di kaki Gunung Cakrabuana.

Selanjutnya, menyiapkan lahan untuk tanaman kopi dengan luasan melebihi luas tanam yang dari sekarang.

Sutisna mengungkapkan di wilayah Desa Ganjaresik ada lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang dulu menjadi lahan pengganti kehutanan wilayah yang tergenang Waduk Jatigede.

Menurut para petani, kini lahan tersebut tidak terkelola dengan baik sehingga tidak produktif.

“Ada usulan dari petani bagaimana kalau lahan pengganti itu dikelola kelompok tani untuk menanam kopi. Untuk itu kami akan memohon ke pihak BBWS agar lahan bisa digarap oleh petani menanam kopi. Luasnya lumayan mencapai 150 hektare. Tapi ya nanti ada mekanisme agar tidak terjadi kekeliruan,” ujarnya.

Sutisna menegaskan, upaya lainnya agar kopi bisa dikelola dari mulai hilir hingga hulu, pihaknya akan menyiapkan sarana prasarana pemasaran dari hasil kopi olahan petani.

“Mudah-mudahan berbagai upaya yang akan dilakukan bisa mewujudkan wilayah Wado, terutama di kawasan dataran tinggi menjadi sentra kopi,” katanya.

Untuk itu, pihaknya minta kepada seluruh elmen masyarakat Wado agar mengkonsumsi kopi hasil olahan asli Wado.

“Bahkan mulai sekarang, saya sudah instruksikan agar para pegawai kecamatan, tokoh masyarakat, pegawai desa bahkan masyarakat agar mengkonsumsi kopi olahan petani,” katanya lagi.(eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *