Bir Pletok Kreasi UMKM Sumedang: Miliki Citarasa Khas yang Unik dan Tanpa Alkohol!

Bir Pletok Kreasi UMKM Sumedang
Bir Pletok Kreasi UMKM Sumedang(ist)
0 Komentar

sumedangeskpres– Bir Pletok Kreasi UMKM Sumedang, saat ini UMKM sedang gencar mempromosikan ciri khas produknya. Sehingga beragam kuliner dan minuman hasil kreasi para pelaku UMKM marak bermunculan di Kabupaten Sumedang. Salah satunya adalah bir pletok Sambeang.

Bir pletok adalah jenis minuman khas Betawi yang sudah dikenal sejak zaman Hindia Belanda. Beda bir pletok dengan bir pada umumnya, minuman ini tak beralkohol atau 0% alkohol.

Bir pletok dengan merek Sambeang sendiri adalah hasil kreasi Mahbub Junaidi yang karib disapa Bobby, warga Dusun Sembir, Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan. Bir pletok buatannya cukup unik lantaran tidak seperti bir pletok pada umumnya lantaran terbuat dari bahan utama berupa daun pucuk teh.

Baca Juga:Karena Cemburu Suami Tega Bacok Istri: Bagaimana Kronologinya?Syarat Jadi Anggota Pengawas TPS Pemilu 2024!

Pemilihan pucuk teh sebagai bahan utama tidak terlepas dari daya kreativitasnya. Hal itu berawal saat Bobby yang semula tinggal di Jakarta harus hijrah ke Sumedang setelah menikah dengan istrinya yang memang asli orang Sumedang.

Kala itu, ia melihat sumber daya alam yang dimiliki Sumedang atau tepatnya potensi dari perkebunan teh Cisoka di Kecamatan Sumedang Selatan.

Bobby yang awalnya sebagai warga Jakarta memiliki ide untuk membuat minuman bir pletok dengan citarasa khas atau disesuaikan dengan kondisi alam tempat tinggalnya kini.

Ia sempat bereksperimen membuat bir pletok dengan bahan utama buah-buahan seperti buah mangga, salak dan sawo. Namun dari semua yang telah dicobanya, bahan utama pucuk teh yang dianggap paling unik dan memenuhi kriterianya agar tak menghasilkan alkohol dan cocok dikonsumsi siapa saja.

Bobby mengaku butuh waktu sekitar satu tahun hingga menemukan formulasi yang pas untuk membuat bir pletok Sambeang dengan bahan utama daun pucuk. “Butuh waktu satu tahun hingga saya berhasil membuat minuman teh hijau Cisoka dengan teknik fermentasi,” terangnya.

Bir pletok buatannya itu diberinya nama Sambeang. Bukan tanpa alasan ia memilih nama berbahasa Sunda tersebut atau yang berarti sembahyang atau ibadah. Baginya, nama tersebut sebagai bagian dari doanya dalam menjalankan ikhtiar ibadahnya dengan membuka bisnis baru di tempat tinggalnya.

0 Komentar