“Kebutuhannya memang sangat besar, karena itu didorong agar sejumlah perguruan tinggi mulai membuka pendidikan Sp.KKLP. Sekarang sedang dicoba dikembangkan melalui collegium based (sistem pendidikan dokter spesialis yang berpusat pada kolegium, organisasi profesi dokter spesialis) yang sedang kami susun rancangan programnya,” kata dr. Elsa.
Peran Dokter Keluarga
Sebagai akademisi dan praktisi, dr. Elsa menegaskan pentingnya peran dokter keluarga dalam sistem kesehatan Indonesia. Berbeda dengan dokter spesialis yang umumnya melayani pasien di ruang praktik, dokter keluarga hadir langsung di tengah masyarakat melalui kunjungan rumah dan pendampingan berkelanjutan.
Dalam kasus seperti anak dengan autisme, dokter keluarga berperan sebagai pihak pertama yang menemukan, menilai, dan menentukan kebutuhan rujukan ke spesialis. Pendekatan ini memungkinkan pelayanan kesehatan yang lebih holistik dan berkesinambungan di tingkat primer.
Baca Juga:Siap Hadir di Layar Lebar, Berikut Jadwal Tayang dan Sinopsi Film Pamali: Tumbal!Ingin Hidup Lebih Produktif? Lakukan Kebiasaan Ini Agar Kamu Bisa Lebih Fokus dan Produktif!
Meski peran dokter keluarga layanan primer semakin dibutuhkan, dr. Elsa mengakui bahwa tantangan utama terletak pada sistem pembiayaan yang belum sepenuhnya mendukung. Saat ini, skema BPJS belum mengakomodasi pembiayaan khusus bagi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (Sp.KKLP), terutama untuk layanan seperti kunjungan rumah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan nasional masih perlu diperkuat agar mampu mendukung peran dokter keluarga secara optimal di layanan primer.
“Saat ini, kami sudah membentuk tim untuk merancang sistem pembiayaan bagi KKLP. Sekarang pendekatannya, kami bekerja dulu agar BPJS melihat hasilnya bahwa profesi ini memang mampu menekan beban biaya kesehatan. Setelah itu, barulah muncul dukungan untuk mengembangkan profesinya, termasuk pembiayaannya melalui BPJS. Nah, ini yang sedang kami rancang dan kembangkan sekarang,” ujar dr. Elsa.
dr. Elsa mengatakan bahwa pengembangan KKLP masih memiliki jalan yang panjang. Langkah yang diambil saat ini baru sebatas membuka pintu dan mulai berjalan satu hingga dua langkah awal. Meski progres sudah terlihat, perjalanan untuk memperkuat peran, sistem, dan pengakuan profesi ini dalam sistem kesehatan nasional masih membutuhkan waktu, kerja sama, dan upaya berkelanjutan dari berbagai pihak.
“Teman-teman di layanan primer yang memang memiliki dedikasi dan menjadikan layanan primer sebagai pilihan hidup, bisa mengembangkan profesinya melalui jalur ini. Harapannya, setelah profesi ini berkembang, sistem kita juga turut berjalan untuk mendukungnya. Karena tantangannya bukan hanya soal pembiayaan, tetapi juga belum adanya sistem karier yang jelas untuk profesi ini,” kata dr. Elsa.
