SUMEDANG EKSPRES – Senja turun perlahan di Alun-Alun Sumedang. Lampu-lampu mulai menyala, anak-anak berlarian. Dan, derap langkah warga memecah lengang pusat kota.
Libur Natal dan Tahun Baru kembali datang. Dengan membawa harapan yang selalu sama bagi para pedagang kaki lima: dagangan laku, rezeki bertambah.
Tahun ini, malam pergantian tahun akan berlalu tanpa dentum kembang api. Tak ada sorak sorai memecah langit. Namun di lapak-lapak sederhana yang berjajar di sekitar Alun-Alun dan Masjid Agung Sumedang, harapan tetap dijaga, meski dengan napas lebih pelan.
Baca Juga:Libur Nataru, Wisata Air Gajah Depa jadi Favorit Keluarga di SumedangSambut Nataru, DPD Gerindra Jabar Arahkan Doa Bersama dan Penanaman Pohon
Atang berdiri di dekat lapaknya. Deretan mainan anak ia tata rapi. Mobil-mobilan kecil, balon warna-warni, dan wahana sederhana menjadi penarik tawa bocah-bocah yang datang bersama orang tuanya.
Baginya, libur Nataru adalah waktu yang dinanti. Sebuah momen ketika keramaian memberi arti pada setiap hari berdagang.
“Kalau dibanding tahun kemarin, kayaknya lebih rame sekarang,” ujarnya lirih, kepada Sumeks, Senin (29/12/2025).
Keramaian itu belum tentu berarti kepastian. Cuaca yang tak menentu dan daya beli yang naik turun membuat para pedagang tetap waspada. Namun Atang memilih optimistis.
Setiap pengunjung yang berhenti, setiap anak yang tertawa, adalah alasan untuk bertahan.
Ia berharap pemerintah daerah terus memberi ruang bagi pedagang kecil seperti dirinya. Bukan sekadar izin berjualan, tetapi juga rasa aman untuk menggantungkan hidup di ruang publik yang menjadi denyut kota.
“Harapan saya sederhana. Semoga kami tetap dibolehkan usaha di sini,” katanya.
Baca Juga:Buricak Burinong Dihidupkan Kembali, Bupati Sumedang Ingin Jatigede jadi Panggung BudayaJangan Lewatkan! Asia Plaza Sumedang Gelar Diskon Spesial Akhir Tahun
Di tengah hiruk pikuk, Atang juga menyelipkan pesan sunyi: tentang menjaga kebersihan, tentang menghormati ruang bersama.
“Kalau sudah berkunjung, tolong jaga kebersihan. Sampahnya jangan dibuang sembarangan,” tuturnya.
Tanpa kembang api, malam tahun baru mungkin terasa berbeda. Biasanya, dentuman cahaya menjadi magnet yang mengundang ribuan orang. Absennya perayaan itu, menurut Atang, pasti berdampak.
“Kalau ada kembang api, biasanya orang lebih banyak. Dagangan juga lebih jalan,” katanya, tanpa nada keluh.
Namun di Alun-Alun Sumedang, harapan tak selalu bergantung pada gemerlap langit.
