Ditempa Dua Abad Sebelum Pajajaran Runtuh, Siapa Pembuat Mahkota Binokasih Sumedang Larang?

Mahkota Binokasih Sumedang Larang
Mahkota Binokasih Sumedang Larang.(istimewa)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Pada Jumat yang sakral, 22 April 1578, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, sejarah Sumedang Larang berubah selamanya. Di Keraton Kutamaya, empat utusan bangsawan Pajajaran melangkah masuk membawa benda paling sakral kerajaan Sunda: Mahkota Binokasih.

Namun, di balik mahkota yang menjadi simbol kekuasaan itu, tersimpan satu pertanyaan yang jarang dibahas: siapa empu pembuat mahkota yang mengubah arah sejarah tanah Parahyangan?

Empat Utusan dan Amanat Terakhir Pajajaran

Empat Kandaga Lante–Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot–datang sebagai wakil terakhir kejayaan Pajajaran. Mereka diutus Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, membawa mahkota dan seluruh atribut kerajaan.

Baca Juga:Sengketa Tanah dengan PT Subur Setiadi, DPRD Sumedang Tindaklanjuti Aspirasi Warga Cimarias Lagi Cari Jajanan Manis di Sumedang? Gasuke Gabin Susu Keju Ini Lagi Naik Daun

Penyerahan pusaka itu bukan sekadar seremonial. Pajajaran saat itu berada di ambang kehancuran akibat tekanan pasukan gabungan Banten, Cirebon, dan Demak. Mahkota Binokasih diserahkan sebagai tanda bahwa Sumedang Larang ditetapkan menjadi penerus sah kekuasaan Sunda.

Mahkota yang Ditempa Dua Abad Sebelumnya

Mahkota Binokasih bukanlah karya biasa. Ia dibuat jauh sebelumnya, pada masa pemerintahan Prabu Bunisora (1357–1371). Di era itulah seorang empu logam istana dipercaya menempa mahkota yang bukan hanya indah, tetapi sarat makna kosmologis dan filosofi kepemimpinan Sunda.

Nama sang empu tak tercatat jelas dalam prasasti besar sejarah. Namun para sejarawan meyakini, mahkota itu lahir dari tangan seorang maestro metalurgi Nusantara yang memahami simbol kekuasaan, spiritualitas, dan legitimasi politik.

Ia menciptakan mahkota bukan sebagai perhiasan, melainkan sebagai manifestasi konsep raja sebagai pemelihara harmoni semesta.

Penobatan yang Mengubah Sejarah Parahyangan

Hari itu juga, mahkota disematkan kepada Pangeran Angkawijaya. Ia dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Momentum tersebut menandai berpindahnya pusat legitimasi kekuasaan Sunda dari Pajajaran ke Sumedang.

Naskah Pustaka Kertabhumi 1/2 mencatatnya dengan kalimat puitis:

“Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh di bumi Parahyangan.”

Mahkota Binokasih menjadi bukti bahwa Sumedang bukan sekadar kerajaan kecil, tetapi pewaris sah peradaban Sunda.

0 Komentar