Saat berkunjung ke Asmat, ia melihat secara langsung kecerdasan dan ketangguhan anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan, akses kesehatan, dan sanitasi. Kondisi tersebut semakin menguatkan tekad untuk memastikan hak-hak mereka terpenuhi.
Upaya bersama dengan UNICEF diharapkan dapat mempercepat langkah dalam menutup kesenjangan, membangun ekosistem yang memberi kesempatan setara bagi seluruh anak, serta memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.
UNICEF sendiri didirikan setelah Perang Dunia II dengan tujuan membantu anak-anak di berbagai belahan dunia yang terdampak perang dan mengalami kondisi kehidupan yang terpuruk. Selama delapan dekade terakhir, organisasi tersebut telah menjangkau anak-anak di 190 negara dan wilayah, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah dan berbagai mitra nonpemerintah.
Baca Juga:5 Artis Menginspirasi Dalam Dunia Pendidikan
Sebagai bagian dari pendekatan kerjanya, UNICEF memiliki tradisi kuat dalam menggandeng tokoh masyarakat berpengaruh guna memperluas dampak program kemanusiaan.
Di Indonesia, perjalanan UNICEF dimulai pada 1948 ketika kekeringan parah melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak saat itu, kerja sama dengan Pemerintah Indonesia terus berkembang, mencakup bidang kesehatan anak, gizi, pendidikan, sanitasi air dan kebersihan, perlindungan anak, hingga kebijakan sosial.
Dalam bidang gizi, UNICEF telah menerapkan protokol baru untuk menangani anak-anak dengan kekurangan gizi akut. Sebanyak 7,6 juta anak di bawah usia lima tahun telah menjalani pemeriksaan, dan lebih dari 36.000 anak dengan kondisi sangat kurus dan parah telah dirujuk untuk mendapatkan pengobatan.
Di sektor pendidikan, lebih dari 100.000 anak yang sebelumnya putus sekolah berhasil kembali melanjutkan pendidikan, serta lebih dari 237.000 anak rentan berhasil dicegah agar tidak putus sekolah.
Program pencegahan kekerasan dan penciptaan lingkungan belajar yang lebih aman juga terus diperkuat. Program tersebut kini telah menjangkau 2,2 juta anak di 36.000 sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Cinta Lauranya juga menyampaikan dalam isntagramnya
Menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia adalah langkah nyata untuk menjembatani ketimpangan itu.
Ini adalah tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kesempatan bukan lagi sebuah privilege bagi segelintir orang, melainkan hak untuk semua anak TANPA terkecuali.
Baca Juga:
Dari Sabang sampai Merauke, tujuan kita sudah sangat jelas yaitu memastikan bahwa tempat lahir seorang anak tidak akan pernah menentukan masa depan mereka.
