SUMEDANGEKSPRES – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumedang menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Ketua PDM Kabupaten Sumedang, KH Dadang Setiawan, S.Ag M.Si menjelaskan, berdasarkan perhitungan tersebut, bulan Ramadan tahun ini digenapkan menjadi 30 hari.
Baca Juga:Lebaran di Balik Panel Kontrol: Pekerja Kilang Pertamina Kawal Satgas Ramadan & Idulfitri 2026Pertamina Patra Niaga Bergerak Lebih Fleksibel dengan Inovasi Block Mode
Dengan demikian, umat Islam warga Muhammadiyah akan melaksanakan salat Idulfitri pada Jumat pagi.
“Berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal dengan menggunakan KHGT, maka 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Artinya, puasa Ramadan disempurnakan selama 30 hari,” ujar KH Dadang kepada Sumeks, Kamis (19/3) malam.
Dikatakan, pelaksanaan salat Idulfitri, PDM Sumedang telah menyiapkan sejumlah titik lokasi.
Sementara untuk tingkat kabupaten, salat Id akan dipusatkan di Lapangan PPS/IPP yang akan dimulai pada pukul 06.30 WIB.
“Kami telah menyiapkan beberapa lokasi pelaksanaan salat Idulfitri, dan untuk tingkat kabupaten akan dipusatkan di Lapangan PPS/IPP mulai pukul 06.30 pagi,” katanya.
KH Dadang juga mengimbau kepada warga Muhammadiyah dan simpatisan agar melaksanakan salat Id di lokasi-lokasi yang telah ditentukan oleh persyarikatan. Hal ini dilakukan untuk menjaga keteraturan serta kekhusyukan ibadah.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh umat Islam, khususnya di Kabupaten Sumedang, untuk menyikapi potensi perbedaan penetapan Idulfitri dengan penuh kedewasaan dan kebijaksanaan.
Baca Juga:Ribuan Pemudik Bersiap Berangkat, Mudik Bareng Pertamina Dorong Perjalanan Aman dan Hemat BBMDirjen Kawasan Permukiman Tinjau Calon Penerima BSPS di Sumedang, 550 RTLH Siap Diperbaiki
Ia menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah merupakan bagian dari hasil ijtihad yang harus dihormati.
“Kami mengajak seluruh umat Islam untuk menyikapi perbedaan ini secara arif dan bijaksana. Perbedaan adalah hal yang wajar dalam ranah ijtihad, sehingga perlu disikapi dengan saling menghormati dan menghargai,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai “tasamuh” atau toleransi harus terus dijaga dalam kehidupan beragama. Sikap lapang dada dan saling menghormati menjadi kunci untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan.
“Semoga perbedaan ini menjadi rahmat bagi umat Islam. Mari kita kedepankan tasamuh, saling menghargai, dan menjaga ukhuwah Islamiyah,” tambahnya.
