Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Mang Sawun, tukang tahu gejrot dari Cirebon, mungkin tak pernah tahu bahwa dagangannya bukan sekadar “tahu diguyur kuah pedas-manis.
0 Komentar

Mang Sawun kini bukan lagi pedagang tahu, tapi pemulung budaya: keranjangnya penuh bekas cup ramen dan box sushi. Tahu gejrot wafat, lemper tinggal kenangan, serabi jadi nostalgia.

Sementara Gen Z dan Alfanya penyandu K-Pop Hallyu 4.0. Mereka berhasil menanamkan sistem budaya di negara lain. Model lain dari kolonialisme budaya.

Kalau kuliner tradisional terus dibiarkan kalah, jangan salahkan anak cucu kita kalau nanti lebih hafal “K-Pop Corn Dog” daripada “Kue Cucur.” Padahal, tahu gejrot, klepon dan sebangsanya adalah konservasi ideologis: menjaga kontinuitas, keabadian, dan akar tradisi.

Baca Juga:Hadiri Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai”, Wamen Ossy: Memuliakan Sungai Berarti Memuliakan NegaraGrup Gay Berlabel Wilayah Sumedang Muncul di Media Sosial

Bangsa yang kehilangan ongol-ongol, onde-onde dan sejenisnya, bukan sekadar kehilangan jajanan pasar. Ia kehilangan identitas. Jadi mari jajan tahu gejrot, klepon atau serabi. Terserah anda. (Kang Marbawi, 200626)

0 Komentar