Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Mang Sawun, tukang tahu gejrot dari Cirebon, mungkin tak pernah tahu bahwa dagangannya bukan sekadar “tahu diguyur kuah pedas-manis.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES,Mang Sawun, tukang tahu gejrot dari Cirebon, mungkin tak pernah tahu bahwa dagangannya bukan sekadar “tahu diguyur kuah pedas-manis.

” Ia sejatinya sedang menggendong identitas dan narasi bangsa di atas sepeda ontel. Sayang, roda ontelnya kalah cepat dari roda globalisasi yang digas oleh pasukan kuliner asing.

Bayangkan medan perang kuliner Nusantara: Di satu sisi, pasukan tradisional — tahu gejrot, klepon, getuk lindri, kue putu, serabi, cucur — berbaris dengan senjata sederhana: cabe rawit, gula merah, santan, dan daun pisang.

Baca Juga:Hadiri Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai”, Wamen Ossy: Memuliakan Sungai Berarti Memuliakan NegaraGrup Gay Berlabel Wilayah Sumedang Muncul di Media Sosial

Di sisi lain, pasukan asing datang dengan strategi gastrodiplomasi yang rapi. Korea mengirim Kimchi, Ramyeon, Teokbokki, Bulgogi, lengkap dengan dukungan pasukan K-Pop.

Jepang menurunkan Sushi, Ramen, Takoyaki, Mochi, dengan bendera Cool Japan berkibar di atas restoran franchise.Hasilnya? Pasukan lokal hanya bertahan di garis demarkasi terakhir: kaki lima. Sementara anak-anak kita lebih hafal corndog daripada klepon.

Indonesia sebenarnya sudah punya Grand Strategy Diplomasi Soft Power (2024). Isinya indah: budaya, pariwisata, pendidikan, nilai kebangsaan jadi aset utama.

Tapi, kuliner tradisional seperti tahu gejrot belum masuk daftar “pasukan elit.” Padahal, kuliner adalah bagian dari rudal F6: food, fashion, film, festival, finance, fiction. Korea dan Jepang sudah membuktikan, lewat gastro diplomasi, kuliner bisa jadi senjata branding nasional sekaligus penggerak ekonomi kreatif.Thailand punya Global Thai — restoran Thai menjamur di dunia. Korea punya Hansik Globalization — kimchi jadi ikon. Jepang punya Cool Japan — sushi jadi paspor budaya.

Indonesia? Tahu gejrot, kerak telor masih megap-megap di emperan, tanpa strategi, tanpa dukungan.

Filosofi yang Terkubur

Tahu gejrot dan angota partai kuliner tradisional lainnya bukan sekadar kudapan. Ia adalah arsip budaya: Ada transmisi nilai dari generasi ke generasi.

Ada filosofi hidup sederhana, pedas-manis getir seperti perjalanan bangsa. Ada kearifan lokal: dari cara mengulek cabe hingga ritual makan di pinggir jalan. Tapi semua itu terkubur oleh paper cup ramen instan dan kotak sushi takeaway.

Baca Juga:Pertamina Patra Niaga Terus Tingkatkan Kenyamanan dan Kualitas Layanan di SPBUAntrean Pertalite Warga Rela Menunggu Demi Hemat Pengeluaran

Ironinya, kuliner tradisional kita, seperti veteran perang yang tak pernah diberi pensiun. Mereka berjuang mempertahankan identitas bangsa, tapi negara sibuk bikin festival “branding” tanpa memberi amunisi pada pasukan inti. Akhirnya, tahu gejrot jadi korban kolonialisasi rasa.

0 Komentar