Fajar juga menyoroti upaya Pemkab Sumedang dalam membuka kesempatan kerja melalui inovasi dan kolaborasi. Selain mendorong masuknya investasi, pemerintah daerah juga memfasilitasi tenaga kerja untuk bekerja di luar negeri.
“Alhamdulillah tahun kemarin kurang lebih 150 orang telah kami fasilitasi bekerja ke Jepang. Kami tidak ingin hanya menunggu investasi datang. Selama ada peluang kerja dan masyarakat ingin bekerja, pemerintah harus hadir memfasilitasinya,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang Dr. Hj. Tuti Ruswati memaparkan capaian pembangunan daerah yang menjadi bahan verifikasi Tim Penilai. Ia menjelaskan bahwa pembangunan Sumedang dilaksanakan melalui pendekatan kolaboratif dengan fondasi agama, budaya, dan teknologi serta melibatkan seluruh unsur pentahelix.
Baca Juga:DPRD Mulai Bahas Raperda, Sidik Jafar: Regulasi yang Lahir harus Mampu Menjamin Pilkades yang DemokratisMelihat Kekerasan atau LGBT? Hubungi Segera 110 dan 112, Bupati: Sudah Dibentuk Satgasnya
Sepanjang tahun 2025, berbagai indikator pembangunan menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 75,50, laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,48 persen, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 6,08 persen, sementara angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,81 persen.
Pada kesempatan tersebut juga dipaparkan berbagai program unggulan daerah, di antaranya Sekolah/Pesantren Produktif dan Ramah Lingkungan, Magrib Mengaji, Implementasi Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS), Revolusi Pertanian 4A, Gerakan Wirausaha Pemuda, hingga inovasi GEMPITA (Gerakan Multipihak Pelatihan dan Penempatan Kerja).
Melalui model kolaborasi Quintuple Helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan lingkungan, GEMPITA berhasil menghasilkan 1.779 peserta bersertifikat kompetensi, memfasilitasi 16.102 orang mengikuti pelatihan dan penempatan kerja, serta mendorong lahirnya 1.007 UMKM baru. (red)
