Kalau rekomendasi “Right to be Forgotten alias lupakan aku” ini berjalan, NU bukan hanya penggerak dakwah, tapi juga penjaga etos digital.
Tapi kalau tidak, ya kita kembali ke kebiasaan lama: pandai bikin aturan, lebih pandai melanggarnya. Kita perlu melek digital agar tidak mudah dimanipulasi. Data pribadi itu, macam pulpen di kelas, selalu berpindah tangan, tapi selalu dipakai untuk menulis catatan orang lain. (Kang Marbawi, 270626)
