Seolah-olah kita diberi kesempatan untuk menekan tombol Ctrl+Alt+Delete atas masa lalu. Status galau tahun 2010 bisa lenyap, foto alay di Friendster bisa sirna, bahkan utang warung bisa ikut terhapus dari algoritma. NU seperti menawarkan “istighfar digital”: sekali klik, dosa status lama ikut terhapus.
Munas NU itu menambahkan: data pribadi juga bisa jadi dosa sosial. Maka, hak untuk dilupakan bukan sekadar pasal hukum, tapi bisa jadi doa harian: “Ya Allah, hapuslah jejak digital kami, sebagaimana Engkau menghapus dosa-dosa kami.”
Kalau NU serius, mungkin kelak kita bisa punya fitur baru: “istighfar digital”. Sekali klik, bukan hanya data yang terhapus, tapi juga kenangan pahit bersama mantan.
Baca Juga:Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata RuangKenali Prosedur dan Syarat Pemisahan Bidang Tanah
Sayangnya, di negeri ini, punya penyakit “sulit lupa”, mengingat itu hobi. Hal yang harus dilupakan, kadang di warung kopi tetap jadi bahan gosip.
Seperti gosip tentang forum AHWA -Ahlul Halli wal Aqdi, kumpulan orang-orang pilihan yang berwenang untuk melepas dan mengikat keputusan.
Ahwa ini macam konsorsium tukang kunci politik. Mereka punya kunci untuk membuka pintu kepemimpinan, sekaligus gembok untuk menutup jalan orang yang dianggap tidak layak. Atau macam MC hajatan demokrasi di NU.
Merekalah yang menentukan siapa naik panggung, siapa duduk di kursi tamu, dan siapa cukup jadi penonton.
Atau gosip pembahasan isu tambang NU yang indah di kertas, tapi di lapangan bisa jadi ujian iman.
Mengelola tambang batu bara dan ladang minyak, malah jadi tambang masalah dan ladang konflik.
Tambang itu seperti sumur tetangga: kalau airnya jernih, semua ikut minum; kalau keruh, semua ikut ribut. Jangan-jangan AHWA pun sama, indah di podium, tapi di belakang layar tetap ada lobi.
Baca Juga:Terdapat Perbedaan Luas Antara Alas Hak Lama dan Sertipikat? Tak Perlu Khawatir, Ini PenjelasannyaPersyaratan dan Pendaftaran Nikah di KUA Cimalaka
Film Zero Day menunjukkan bahwa di dunia yang serba terkoneksi, privasi hampir mustahil dipertahankan, jika tanpa regulasi dan kesadaran digital. Era dimana privasi rapuh dengan kontrol data yang bisa memperbudak manusia.
Dengan tagline memudahkan semua urusan, data adalah senjata paling canggih. Kebocoran data pribadi tidak hanya merugikan individu, tapi bisa dipakai untuk manipulasi politik, propaganda, dan perang informasi.
