Lupakan Aku

Lupakan Aku
Ah mana ada privasi hari ini. Hari ini, privasi bukan lagi macam kamar tidur yang terkunci, tapi macam baliho di pinggir jalan tol digital.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES– Ah mana ada privasi hari ini. Hari ini, privasi bukan lagi macam kamar tidur yang terkunci, tapi macam baliho di pinggir jalan tol digital.m

Tak percaya? Cek saja status di media sosial yang jadi tontonan publik. Apalagi virus FOMO—fear of missing out— alias takut kudet (kurang update di medsos) melahirkan spesies baru: natizen.

Makhluk yang satu ini berkembang biak dengan cepat. Cara hidupnya beda dengan makhluk kasat mata lainnya. Hidupnya separuh di dunia nyata, separuh di kolom komentar. Asal punya akun di media sosial (medsos).

Baca Juga:Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata RuangKenali Prosedur dan Syarat Pemisahan Bidang Tanah

Akun medsos adalah data yang ditambang oleh algoritma. Cek saja, whatsapp kita penuh dengan iklan pinjol (pinjaman online) dan berbagai produk yang bisa dicicil.

Seolah tak rela hidup kita tanpa cicilan. Tak hanya itu, nomor KTP kita lebih laku di pasar gelap ketimbang di kelurahan. Data pribadi berhamburan seperti rambut rontok di kamar kos: ada di bantal, lantai, bahkan terselip di jemuran.

Atau seperti stiker kampanye di tiang listrik: nempel di mana-mana, bikin risih, tapi tetap jadi tontonan.

Padahal film fiksi “Zero Day” yang dibintangi oleh Robert De Niro bersama Lizzy Caplan, Jesse Plemons, Joan Allen, mengingatkan, sekali data bocor, hidup kita bisa jadi bahan dagangan politik.

Tak hanya itu, algoritma pengusa data, menjadikan data kita bisa jadi senjata politik, jadi bahan dagangan, dan jadi alat pengendali yang mengancam kebebasan manusia.

Sekali data bocor, hidup bisa jadi dagangan politik. Di film ini, fakta bisa dikaburkan oleh banjir informasi palsu (post truth), sehingga masyarakat sulit membedakan kebenaran.

Dengan sadar kita menyerahkan, data kita kepada algoritma. Algoritma jadi imam baru yang mengatur arah kiblat manusia.

Baca Juga:Terdapat Perbedaan Luas Antara Alas Hak Lama dan Sertipikat? Tak Perlu Khawatir, Ini PenjelasannyaPersyaratan dan Pendaftaran Nikah di KUA Cimalaka

Kita menyerahkan diri dengan sukarela, seolah-olah password adalah doa, dan akun media sosial adalah kitab suci.

Entah karena pernah melihat film yang tayang di Netflix tahun 2025 ini, para peserta Bahtsul Masail di Muyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) 2026 di Jawa Timur, tiba-tiba tampil gagah: mengusulkan Right to be Forgotten. Hak untuk dilupakan. Indah sekali bunyinya.

0 Komentar