Debu Tambang Menyelimuti Sekolah, Aktivitas Belajar di Cimalaka Terganggu

Polusi Galian C Sumedang
POLUSI: Lapangan upacara dan olahraga SMAN 2 Cimalaka tampak berubah keabu-abuan akibat tertutup lapisan debu yang diduga berasal dari aktivitas penambangan batu dan pasir di sekitar Desa Licin, Kecamatan Cimalaka.(Ahmad/Sumeks)
0 Komentar

WARNA hijau lapangan upacara dan olahraga di SMAN 2 Cimalaka kini nyaris tak terlihat. Hamparannya berubah keabu-abuan, tertutup lapisan debu yang setiap hari diterbangkan angin dari aktivitas penambangan batu dan pasir di sekitar Desa Licin, Kecamatan Cimalaka.

Debu itu tidak hanya mengubah wajah sekolah. Ia ikut masuk ke ruang kelas, aula, hingga menempel di atap bangunan. Setiap pagi, sebelum kegiatan belajar dimulai, guru dan siswa harus membersihkan ruangan agar proses belajar mengajar bisa berlangsung lebih nyaman.

Namun, upaya itu belum mampu mengatasi persoalan yang terus berulang.

Kepala SMAN 2 Cimalaka, Sopian Trenggana, mengatakan hingga kini belum ada perubahan berarti meski pihak sekolah bersama sejumlah sekolah lain dan Kampus UPI yang berada di kawasan tersebut telah menyampaikan keberatan melalui surat kepada pemerintah desa.

Baca Juga:DPRD Sumedang Dorong Koperasi Jadi Motor Penggerak Ekonomi KerakyatanDua Rumah di Sukasari Ludes Terbakar saat Warga Terlelap

“Polusi yang berasal dari galian batu dan pasir sampai saat ini masih mengganggu aktivitas sekolah. Debu yang terbawa angin masuk ke lingkungan sekolah, mengotori ruang kelas, aula, menutupi lapangan olahraga dan upacara, bahkan atap-atap bangunan,” ujarnya saat ditemui Sumedang Ekspres.

Menurut Sopian, dampak polusi tidak hanya mengganggu kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga aktivitas pendidikan.

Lapangan yang biasa digunakan untuk upacara bendera, pelajaran olahraga, hingga kegiatan pembiasaan dan literasi kini untuk sementara tidak dimanfaatkan. Ketebalan debu dinilai berpotensi mengganggu kesehatan siswa maupun tenaga pendidik.

“Setiap hari guru dan siswa harus membersihkan ruangan. Kegiatan upacara, olahraga, hingga pembiasaan di lapangan ikut terganggu karena debunya sangat tebal. Ini jelas mengurangi kenyamanan belajar dan juga berdampak pada kesehatan warga sekolah,” katanya.

Bagi pihak sekolah, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan membersihkan lingkungan setiap hari. Yang dibutuhkan adalah solusi bersama agar sumber persoalan dapat dikendalikan.

Sopian berharap perusahaan penambang bersedia duduk bersama dengan sekolah-sekolah terdampak, pemerintah, dan pihak kampus untuk mencari langkah penyelesaian yang dapat diterima semua pihak.

“Barangkali solusinya bisa didiskusikan bersama antara perusahaan tambang dengan sekolah-sekolah maupun pihak kampus, sehingga ada jalan keluar yang baik untuk semua,” ujarnya.

0 Komentar