SUMEDANGEKSPRES – Bau minyak telon menyeruak dari tubuh anak lanang ku yang baru berumur 4,5 tahun. Lendotan tubuhnya ketika di pangku atau nangkring di pundak ku menjadi kebahagiaan yang tak terkira.
Bau minyak telonnya ibarat parfum politik: lembut khas, dan bikin orang tua merasa jadi caleg -calon legislatif tunggal di dapil -daerah pemilihan, rumah tangga.
Celotehnya tentang apa pun ketika kami berjalan bersama ke sawah adalah bisikan yang indah. Ocehan berbalut imajinasi liar khas anak-anak yang kirana -bagus, tentang kumbang, burung pipit, kali dan sawah yang mengering menjadi bahan pembicaraan antara kami -ayah dan anak.
Baca Juga:13 Negara Ramaikan West Java Paragliding Championship 2026, Langit Sumedang Jadi Panggung DuniaNakhoda Baru AMS Sumedang, Kusmana Resmi Terpilih Menjadi Ketua Periode 2026–2031
Pertanyaan kenapa sawah kering, penjelasan padi adalah mula dari beras, dimasak menjadi nasi yang dikonsumsi, petani yang menggarap sawah, pendapatan mereka yang tak seberapa dan kesederhanaan hidup serta menghargai kehidupan, menjadi bagian dari obrolan kami.
wicara yang meloncat ke sana ke mari, dan justru itu yang membuat keindahan dari percakapan polos ala anak lanangku. Sesekali kami sapa Mang Ono – satu-satunya pemilik terakhir kerbau di kampung kami.
Terkadang memang ada masanya dia merajuk meminta atau memaksa sesuatu. Saat itulah kami belajar dari dia bagaimana berkompromi dengan lembut namun tetap ada batas yang disepakati.
Dia belajar bagaimana menyelesaikan pertengkaran khas anak-anak dengan temannya di raudhatul atfal (taman-kanak-kanak-TK). Semua adalah “rapat paripurna” kecil yang mengajarkan kompromi, berbagi, dan kadang voting ala rebutan mainan. Dunia anak adalah keceriaan.
Kadang ku ajak dia mengeksplorasi lingkungan sekitar, melihat anak-anak kecil seusianya yang terpaksa bertarung di jalanan untuk hidup.
Menggendong karung atau membawa bekas bungkus chiki, memulung atau mengamen. Ku tanamkan nilai dengan bahasa sederhana dan dipahaminya, bahwa kebersyukuran mu harus kuat dan itu ditorehkan dengan kerja keras, belajar dan membantu sesama – kelak.
Sebelum tidur pun, tingkahnya membuat kami senang dan kadang bikin kesel-sayang. Selepas pelbagai tutur cerita, dia berimprovisasi menumpuk bantal ditutupi selimut, menjadi kemah.
Baca Juga:Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan di Kantah Kab Bogor I Tetap Berjalan Pascapenyidikan PolisiBupati Dony Raih Penghargaan “Tokoh Pelopor Digitalisasi Birokrasi”
Memaksaku terlibat dalam imajinasi berkemah dan permainan bayangan -menggunakan sinar hand phone (HP), tentang buaya, kancil, kelinci, atau dinosaurus. Padahal mata ini sudah sangat ngantuk.
