Patimura selalu setia nongkrong, sementara Soekarno-Hatta sering kabur entah ke mana. Kalau ada lomba ketahanan, Patimura pasti juara bertahan.
Biarkan kami saja yang tahu getirnya perjuangan ini.
Bersama anak lanang kecilku, kami merasa merdeka: merdeka dari kesepian, merdeka dari rutinitas, merdeka dari politik uang. Dan kalau dompet orang tua penuh Patimura, itu bukan tanda miskin, tapi tanda perjuangan.
Ya sudahlah, biarkan kami saja yang tahu getirnya perjuangan ini nak! Bersamamu adalah kemerdekaan kami, kebahagaiaan kami. Perjuangan kami adalah mewujudkan masa depanmu yang lebih mapan; akhlak, ilmu, wawasan dan ekonomi! Dan tentu tawamu nak! Itu kemerdekaan sejati kami – para orang tua.
(Kang Marbawi, 120926)
