Dunia anak memang penuh fantasi: ia melatih kreativitas, problem solving dan kemampuan sosial. Kalau orang tua ikut nimbrung, itu bukan sekadar family time, tapi investasi psikologis: anak belajar bahwa imajinasinya dihargai, bukan ditertawakan.
Obrolan tentang sawah kering, petani yang hidup sederhana, sampai anak-anak seusianya yang harus memulung, adalah pendidikan kelas lapangan.
Anak belajar bahwa dunia tidak hanya berisi mainan di TK, tapi juga ketidakadilan sosial. Di sinilah orang tua jadi “kurikulum berjalan”: menanamkan nilai syukur, kerja keras, dan solidaritas. Kalau di kampus ada mata kuliah Sosiologi Pedesaan, maka di pundak ayah ada mata kuliah “Sosiologi Telon”—lengkap dengan bau khas minyaknya.
Baca Juga:13 Negara Ramaikan West Java Paragliding Championship 2026, Langit Sumedang Jadi Panggung DuniaNakhoda Baru AMS Sumedang, Kusmana Resmi Terpilih Menjadi Ketua Periode 2026–2031
Ah! pokoknya, waktu bersama anak lanang ku adalah waktu terindah dan yang paling ku tunggu.Sebab beberapa tahun mendatang, dia akan menjadi pribadi yang lain yang bisa jadi sulit untuk ku sentuh. Dia akan memiliki kehidupannya sendiri.
Kehidupan yang aku takutkan, kehidupan di dunia maya dan peer groupnya. Yang bisa jadi memiliki garis demarkasi sendiri yang tak bisa kami lewati. Orang tua hanya dianggap ATM berjalan, sementara identitas mereka dibentuk oleh like, share, dan followers.
Secara psikologis, masa remaja memang ditandai dengan pencarian identitas dan kebutuhan akan pengakuan peer group. Kalau orang tua tak siap, bandara bisa ditinggalkan, rajawali sibuk transit di cloud. Itu yang kami hawatirkan!
Maka kami maksimalkan masa-masa emas usianya untuk dekat dengan kami. Ku tanamkan nilai kesederhanaan, kebaikan dan keadaban serta rasa welas asih kepada sesama.
Kami syukuri itu. Sebab bisa jadi, banyak orang tua lainnya yang menginginkan hal yang sama -kebersamaan dengan keluarga, namun tak bisa.
Karena harus berjuang memerdekakan dirinya dari himpitan hidup. Sehingga celoteh indah anak-anaknya tergantikan dengan peluh, karung dan bekas bungkus chiki di tangan.
Dan bukan berarti dompet kami sudah merdeka! Kami pun masih berjuang membebaskan “Patimura” dari dompet kami. Kami masih mengejar “Soekarno Hatta” agar rela berhimpitan dan berlama-lama di dompet kami.
