SUMEDANGEKSPRES– Sekitar 5.000 jemaah memadati Pondok Pesantren Cikalama di Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Rabu malam, (26/8). Mereka mengikuti tradisi Ngabungbang sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Jemaah datang dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka terdiri atas keluarga besar pesantren, santri, alumni, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari. Pimpinan Ponpes Cikalama, KH Rd Yuyu Yusuf, mengatakan Ngabungbang merupakan tradisi yang diwariskan para sesepuh pesantren.
Baca Juga:Bongkar Peredaran Obat Keras Polres Sumedang Ungkap 12 Kasus NarkotikaTerminal Pasar Mulai Ditata
Menurut dia, tradisi tersebut digelar setiap tanggal 14 Maulud atau Rabiul Awal. Ngabungbang tidak hanya menjadi bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sarana memperkuat silaturahmi dan meneladani akhlak Rasulullah.
“Tradisi Ngabungbang bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ikhtiar menjaga nilai-nilai agama, budaya, dan kebersamaan yang telah diwariskan para sesepuh Pondok Pesantren Cikalama,” ujar Yuyu dalam tausiyahnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam keluarga dan sesepuh Ponpes Cikalama. Jemaah antara lain berziarah ke makam Syekh Abdul Zalil dan KH Rd Elang Qudsy yang berada di depan halaman Kantor Kecamatan Cimanggung.
Ziarah menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada ulama dan sesepuh yang dinilai berjasa dalam penyebaran syiar Islam di Cimanggung dan sekitarnya.
Menjelang tengah malam, ribuan santri dan jemaah berkumpul di halaman Masjid Ponpes Cikalama. Mereka mengikuti doa bersama dan tausiyah sebelum memasuki puncak acara berupa ijazahan.
Dalam prosesi itu, salah seorang pengurus perempuan Ponpes Cikalama membacakan sejumlah amalan dan doa khusus. Bacaan tersebut kemudian diikuti seluruh jemaah secara bersama-sama dengan metode talaran.
Prosesi ijazahan memiliki aturan khusus. Jemaah mengikuti pembacaan doa di area terbuka dan tidak diperbolehkan berada di bawah atap bangunan atau terhalang pepohonan.
Baca Juga:HUT RI ke-81 Dinas Damkar Sumedang Gelar Lomba Perdana AntarpegawaiKementerian ATR/BPN Kejar Sertipikasi 11 Juta Rumah MBR hingga 2029
Yuyu mengatakan pelaksanaan Ngabungbang tahun ini berlangsung tertib dan khusyuk. Menurut dia, kelancaran kegiatan juga didukung jemaah, masyarakat sekitar, dan Forkopimcam Cimanggung.
Tradisi Ngabungbang hingga kini tetap dipertahankan masyarakat Desa Sindangpakuon. Selain menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tradisi tersebut menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya, nilai spiritual, dan kebersamaan lintas generasi.(win)
