Yang menarik, kata Dony, penyelenggaraan WJPC tahun ini dapat terlaksana tanpa menggunakan APBD, sementara pemerintah daerah memberikan dukungan berupa fasilitasi dan koordinasi perangkat daerah, khususnya untuk memastikan aspek keamanan, kesehatan dan kelancaran kegiatan.
“Ini bagian dari sebuah kolaborasi pentahelix. Kegiatan ini bisa terlaksana tanpa APBD. Tepuk tangan untuk penyelenggara,” ujar Dony.
Bupati Dony menilai, kegiatan paralayang memiliki banyak manfaat strategis bagi Sumedang.
Baca Juga:Nakhoda Baru AMS Sumedang, Kusmana Resmi Terpilih Menjadi Ketua Periode 2026–2031Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan di Kantah Kab Bogor I Tetap Berjalan Pascapenyidikan Polisi
Pertama, menjadi wadah bagi atlet untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mencetak bibit-bibit atlet paralayang yang nantinya dapat mengharumkan nama Sumedang, Jawa Barat dan Indonesia.
Kedua, kegiatan ini turut memberikan dampak ekonomi. Para peserta yang tinggal selama beberapa hari di Sumedang akan menggunakan hotel, restoran, transportasi, hingga berbagai layanan UMKM lokal.
“Pasti para atlet menginap di Sumedang, makan di Sumedang. Ini akan menggerakkan ekonomi, meningkatkan pendapatan asli daerah dari pajak hotel dan restoran, serta memberikan dampak khusus kepada UMKM,” katanya.
Lebih dari itu, WJPC juga menjadi sarana promosi pariwisata Sumedang ke dunia.
Dony menyebut Batu Dua, Toga Hills dan Jatigede sebagai sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai destinasi olahraga dan wisata paralayang.
“Dengan paralayang, kita terus menginformasikan kepada dunia bahwa di Sumedang ada tempat-tempat terbaik untuk paralayang,” pungkasnya.
