Ketika batik Jawa Barat disebut, nama Cirebon dengan Mega Mendung, atau Garut dengan batik klasik Priangan mungkin lebih dulu terlintas. Di Sumedang, cerita tentang batik memiliki jalan yang berbeda. Ia tumbuh relatif belakangan, tetapi mengambil bahan bakarnya dari sejarah yang jauh lebih tua.
Batik Kasumedangan tidak sekadar menghadirkan ragam corak pada selembar kain. Di balik motifnya terdapat jejak Kerajaan Sumedang Larang, pusaka, simbol kepemimpinan, serta lanskap budaya yang hidup di tengah masyarakat Sunda.
Perkembangan batik di Sumedang mulai menguat pada dekade 1990-an. Gerakan masyarakat, komunitas budaya, perajin, dan kemudian dukungan pemerintah daerah ikut mendorong lahirnya motif-motif yang menggali kembali identitas lokal.
Baca Juga:Rombongan Pesantren Tangerang Telusuri Jejak Sejarah Sumedang LarangDony Minta Persoalan Tanah di Sumedang Diselesaikan Cepat
Sejarah Sumedang Larang menjadi salah satu sumber inspirasi terbesarnya. Berbagai peninggalan kerajaan yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun kemudian diterjemahkan para perajin ke dalam bentuk motif batik.
Dari sana lahir sejumlah motif yang lekat dengan Sumedang. Mahkota Binokasih, Kuda Renggong, Cadas Pangeran, Hanjuang, Lingga, hingga Kembang Cangkok Wijaya Kusumah menjadi bagian dari kekayaan visual Batik Kasumedangan.
Sedikitnya terdapat 29 motif utama yang kemudian berkembang menjadi berbagai variasi sesuai kreativitas para perajin.
Kereta Naga Paksi dan Filosofi Kepemimpinan
Salah satu motif yang paling dikenal adalah Kereta Naga Paksi.
Motif tersebut terinspirasi dari Kereta Kencana Naga Paksi, kendaraan kebesaran pemimpin Sumedang yang kini menjadi salah satu pusaka yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.
Nama Naga Paksi merujuk pada bentuk kereta yang memadukan tiga unsur hewan. Kepala gajah, tubuh naga, dan sayap Garuda menyatu dalam sebuah simbol kebesaran.
Dalam pemaknaan budayanya, gajah dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Naga menjadi simbol kekuatan serta kewibawaan, sedangkan Garuda merepresentasikan kesetiaan, persamaan, dan keharmonisan.
Baca Juga:BPD Cimanggung Cabut Surat Sumbangan Pilkades dan Minta MaafPengajian Kamisan Jadi Ruang Belajar Agama bagi Ibu-ibu Tanjungmekar
Ketika diterjemahkan ke dalam kain, simbol-simbol itu tidak lagi hadir sebagai benda pusaka. Ia berubah menjadi pola yang dapat dikenakan sehari-hari, membawa cerita lama ke ruang kehidupan yang baru.
Warna dan Motif yang Lebih Bebas
Batik Kasumedangan juga memiliki karakter visual yang cukup lentur. Penggunaan warnanya tidak terikat pada aturan warna sakral tertentu seperti yang ditemukan dalam sebagian tradisi batik keraton.
