SUMEDANG – Kabupaten Sumedang kembali menghadapi kenyataan pahit terkait penyebaran virus HIV. Hingga September 2025, jumlah kasus baru tercatat meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini menandakan bahwa laju penularan masih terus berlangsung, bahkan cenderung menguat.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumedang menunjukkan, dari Januari hingga September 2025 tercatat 120 kasus baru HIV, dengan penyumbang terbanyak berasal dari perilaku Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) sebanyak 46 kasus. Selain itu, kasus juga muncul dari pelanggan praktik seks bebas atau “jajan” sebanyak 12 kasus, pengguna narkoba jarum suntik, dan pasangan suami-istri yang tertular dari pasangannya.
“Jumlah ODHIV (Orang dengan HIV) yang hidup dan sudah mengetahui statusnya itu ada 822 orang dari estimasi 1.120 orang. Di antaranya 192 orang sudah meninggal dunia,” ungkap Enung Rohayani, Pengelola Program HIV Dinkes Sumedang, Senin (17/11/2025).
Ia merinci, dari 120 kasus baru tersebut terdapat:
Baca Juga:Program Sekolah Ramah Lingkungan di Sumedang, Disdik Dorong Budaya Bersih dan Pengelolaan Sampah dari Usia DinMengenal Arti dan Cara Kerja Streaks TikTok, Tren Simbol Kedekatan yang Lagi Viral
- LSL: 46 orang
- Waria: 1 orang
- Wanita Pekerja Seks (WPS): 7 orang
- Pengguna narkoba jarum suntik: 8 orang
- TBC: 14 orang
- IMS: 2 orang
- Ibu hamil: 4 orang
- Pasangan suami-istri: 13 orang
- Pelanggan “jajan”: 12 orang
- Pasangan ODHIV: 6 orang
- Calon pengantin: 3 orang
- Populasi umum: 4 orang
Menurut Enung, hampir seluruh puskesmas di Sumedang melaporkan temuan kasus HIV. Artinya penyebaran tidak hanya terjadi di wilayah tertentu saja, tetapi sudah menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
“Tahun 2024 totalnya 197 kasus. Tahun ini baru September saja sudah 120 kasus. Sangat mungkin melewati angka tahun lalu,” katanya.
Sementara itu, Retno Ernawati, Kepala Sekretariat KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Sumedang sekaligus Ketua Perada Sumedang, menilai data ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, temuan kasus yang meningkat berarti kemampuan deteksi dini semakin baik. Namun di sisi lain, tren ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV belum berhasil ditekan.
“Kita bisa menemukan kasus lebih awal dan langsung melakukan pengobatan. Itu sisi baiknya. Tapi kenyataannya, sebagian dari yang sudah diketahui statusnya justru enggan mengakses pengobatan. Padahal obatnya gratis,” tegas Retno.
Ia mengingatkan bahwa penanganan HIV tidak cukup hanya dengan data dan pengobatan gratis. Tantangan terbesar adalah edukasi, keberanian untuk tes, serta kesadaran masyarakat guna menghentikan stigma dan perilaku berisiko.
