SUMEDANG EKSPRES – Derap langkah anak-anak berseragam sekolah kerap terdengar di lorong-lorong museum sepanjang tahun 2025. Dari pagi hingga siang, rombongan pelajar silih berganti datang, menandai meningkatnya minat generasi muda terhadap wisata sejarah di Kabupaten Sumedang.
Tren positif kunjungan tersebut didominasi pelajar tingkat pendidikan dasar. Admin museum, Salsabila Siti Sa’adah, mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung mulai terasa sejak awal tahun, terutama dari rombongan Sekolah Dasar yang mengikuti program wisata edukasi.
“Sejak awal 2025 sudah terlihat peningkatannya. Paling banyak memang dari SD,” ujar Salsabila saat ditemui Sumeks, baru-baru ini.
Baca Juga:Jelang Nataru, Jalur Selatan Nagreg Masih LengangHarga Telur Merangkak Naik, Komoditas Lain di Pasar Tanjungsari Masih Terkendali
Tak hanya SD, pelajar Taman Kanak-kanak juga menjadi penyumbang kunjungan yang cukup signifikan. Rasa ingin tahu yang besar membuat anak-anak usia dini terlihat antusias menyimak penjelasan pemandu, bahkan tak jarang melontarkan pertanyaan tentang benda-benda bersejarah yang mereka jumpai.
“Anak-anak TK biasanya paling semangat. Mereka banyak bertanya soal koleksi museum,” katanya.
Berbeda dengan jenjang pendidikan dasar, kunjungan pelajar tingkat SMA tercatat relatif lebih sedikit. Umumnya, kedatangan mereka berkaitan dengan kebutuhan dokumentasi sekolah, seperti pengambilan foto untuk buku tahunan.
Meski demikian, secara keseluruhan grafik kunjungan museum sepanjang 2025 menunjukkan tren meningkat. Salsabila mencatat, penurunan sempat terjadi pada bulan Maret serta Juli hingga Agustus. Namun kondisi tersebut tak berlangsung lama.
Memasuki November, lonjakan pengunjung kembali terjadi secara signifikan. Dalam satu bulan, jumlah kunjungan bahkan menembus angka 3.000 orang.
“November kemarin bisa lebih dari 3.000 pengunjung,” ungkapnya.
Jika dirata-ratakan, jumlah pengunjung per pekan berada di bawah 500 orang, terutama sejak September. Pengunjung tersebut berasal dari kombinasi rombongan sekolah dan wisatawan umum. Menariknya, museum juga kerap menerima tamu mancanegara, yang mayoritas berasal dari Belanda.
Menurut Salsabila, wisatawan asal Belanda memiliki ketertarikan kuat terhadap sejarah Indonesia, seiring keterkaitan historis masa lalu antara kedua negara.
Baca Juga:TPK Hotel Sumedang Tembus 35,89 Persen, BPS: Bintang Melonjak, Non Bintang LesuPMI Sumedang Siaga Nataru, Dua Posko Aktif Jaga Keselamatan Warga
Salsabila juga menyinggung dampak kebijakan larangan piknik ke luar Jawa Barat. Kebijakan tersebut diakuinya sempat mengurangi kunjungan dari daerah luar. Namun di sisi lain, justru mendorong sekolah-sekolah di Sumedang untuk lebih memanfaatkan museum sebagai destinasi wisata edukasi.
