SUMEDANG EKSPRES – Geoteater Rancakalong tak lagi sekadar ruang pertunjukan. Setiap Sabtu, tempat ini menjelma panggung hidup kebudayaan Sumedang, tempat kawih, tari, dan atraksi tradisi bertemu dengan antusiasme masyarakat lintas generasi.
Melalui Ekosistem Budaya Kasumedangan (EBK) #7, denyut seni tradisi kembali terasa kuat. Dari panggung terbuka yang menyatu dengan alam, suara kendang, lantunan kawih, hingga tiupan tarompet tradisional menggema, menghidupkan ingatan kolektif akan warisan leluhur.
Pertunjukan dibuka dengan Kawih Kaulinan Urang Lembur oleh HSN. Lantunan lagu rakyat itu membawa penonton bernostalgia pada suasana kampung tempo dulu, saat kaulinan budak menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Sunda.
Baca Juga:Gol Andrew Jung Bawa Persib ke Puncak KlasemenTutup Buku
Nuansa ceria berlanjut lewat Tari Kaulinan dari Arimbi Art. Gerak-gerak ringan dan ekspresif menegaskan bahwa budaya tumbuh dari kebersamaan, keceriaan, dan ruang bermain yang hidup di tengah masyarakat.
Suasana kian dinamis ketika Tempas Sindir dari Sanggar Seni Lingga Manik SMAN 3 Sumedang tampil penuh energi. Tepuk tangan penonton kembali mengalir saat Tari Jaipongan ditampilkan, menghadirkan pesona tari Sunda yang luwes, kuat, dan sarat makna.
Tak hanya seni pertunjukan, EBK #7 juga menampilkan Panahan Tradisional Satria Madang serta Rampak Tarompet PSBS. Tiupan tarompet yang menggema di ruang terbuka Geoteater Rancakalong seolah menjadi penanda bahwa seni tradisi masih menemukan ruang hidupnya di tengah arus zaman modern.
Di antara penonton, tampak Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyimak setiap penampilan. Menurutnya, Ekosistem Budaya Kasumedangan bukan sekadar agenda seni, melainkan ikhtiar menjaga jati diri daerah.
“Budaya adalah identitas dan kekuatan Sumedang. Jika terus dipertunjukkan, budaya akan tetap hidup dan dicintai generasi muda,” ujar Dony.
Ia menilai Geoteater Rancakalong memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan seni dan budaya. Bukan hanya sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga sebagai rumah bersama untuk belajar, berkarya, dan menumbuhkan kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.
“Budaya tidak cukup disimpan, tetapi harus dihidupkan. Di sinilah ruang bagi masyarakat mengekspresikan seni dan tradisi,” katanya.
Baca Juga:Malam Tahun Baru 2026 di Sumedang Tanpa Kembang Api, Polres Tegaskan Larangan PetasanPisang Geprek dan Sticky Milk di Sumedang, Camilan Unik yang Bikin Nagih
Dony menambahkan, pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga warisan lama, melainkan juga menggali dan melahirkan bentuk-bentuk budaya baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia pun mengapresiasi kreativitas para pelaku seni yang tampil dalam EBK #7.
