Geotheater Rancakalong Disiapkan Jadi Pusat Ekosistem Budaya di Kabupaten Sumedang

Geotheater Rancakalong Disiapkan Jadi Pusat Ekosistem Budaya di Kabupaten Sumedang
Geotheater Rancakalong Disiapkan Jadi Pusat Ekosistem Budaya di Kabupaten Sumedang (ISTIMEWA)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Geotheater Rancakalong terus dikembangkan sebagai pusat ekosistem kebudayaan di Kabupaten Sumedang. Sejumlah program seni dan budaya yang digelar di lokasi tersebut saat ini masih difokuskan pada kalangan remaja, khususnya pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Hal tersebut disampaikan Wendy, perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang, saat ditemui baru-baru ini di Geotheater Rancakalong.

Menurut Wendy, program yang rutin dilaksanakan lebih menitikberatkan pada pengenalan permainan tradisional anak kepada generasi muda.

Baca Juga:Libur Nataru Dongkrak Kunjungan ke Geotheater RancakalongKulit Mulai Kehilangan Elastisitas? Saatnya Rawat dari Dalam dengan Nutricoll B ERL

“Kalau yang rutin memang fokusnya ke usia remaja, dari anak sekolah SD sampai SMA. Kontennya lebih ke pengenalan permainan tradisional anak. Selain itu, kita juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan kursus untuk menampilkan potensi siswa-siswa berprestasi di Sumedang,” ujarnya.

Wendy menjelaskan, Geotheater Rancakalong diproyeksikan sebagai pusat ekosistem kebudayaan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar. Ke depan, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata berbasis budaya yang berkelanjutan.

“Harapannya, masyarakat di sekitar kawasan Geotheater bisa hidup dari sisi kebudayaan dan pariwisatanya. Tempat ini diharapkan menjadi wisata berbasis budaya yang mampu menghidupi masyarakat sekitar,” katanya.

Dalam setiap pertunjukan, konsep yang ditampilkan lebih mengedepankan apresiasi terhadap performa seni. Wendy menuturkan, penyampaian materi sejarah atau latar belakang budaya tidak menjadi fokus utama, melainkan hanya disampaikan secara singkat sebagai pengantar.

“Di sini bukan soal umur atau teori yang mendalam. Kita lebih ke apresiasi terhadap pertunjukan dan performa. Sejarah dijelaskan secara sepintas saja,” jelasnya.

Dari sisi publikasi, Disparbudpora Sumedang melibatkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) serta memanfaatkan media sosial dan jaringan sekolah untuk menyebarluaskan informasi kegiatan.

“Untuk publikasi, kita dibantu KIM dan juga memaksimalkan media sosial, termasuk akun sekolah-sekolah, agar informasi kegiatan bisa lebih luas diketahui masyarakat,” pungkasnya. (PKL/Indyra)

0 Komentar