SUMEDANG EKSPRES – Tanpa spanduk proyek, tanpa seremoni resmi. Suara molen dan adukan semen justru menjadi penanda gotong royong warga Kampung Cipasir, Desa Cintamulya, Kecamatan Jatinangor, yang memilih patungan memperbaiki jalan rusak demi keselamatan bersama.
Ruas jalan yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung itu selama bertahun-tahun dibiarkan berlubang dan rusak parah.
Setiap hari, jalan tersebut dilalui warga untuk bekerja, bersekolah, hingga mengangkut hasil usaha. Namun kondisinya kerap berubah menjadi ancaman, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Baca Juga:Longsor Beruntun di Cadas Pangeran Picu Wacana Penutupan Jalur Bandung-SumedangSerapan APBD Sumedang Tinggi, Efektifkah Belanja atau Sekadar Kejar Target Akhir Tahun?
Karena tak kunjung mendapat kepastian perbaikan, warga akhirnya bersepakat untuk bertindak. Dengan peralatan seadanya dan dana swadaya, mereka melakukan pengecoran jalan secara mandiri.
Pelaksana Harian Kepala Desa Cintamulya, Bina Ferdiasyah, menyebut inisiatif itu lahir dari kegelisahan warga setelah banyak kecelakaan terjadi di lokasi tersebut.
“Sudah banyak yang jatuh, bahkan ada yang sampai patah tulang. Daripada terus menunggu dan menimbulkan korban, warga sepakat memperbaiki sendiri,” ujar Bina, Minggu (28/12/2025).
Dari hasil patungan warga dan dukungan sejumlah pihak, terkumpul dana sekitar Rp12 juta. Dengan anggaran tersebut, warga berhasil mengecor jalan sepanjang 130 meter.
Bantuan juga datang dari berbagai pihak. Irfan dan Dian menyumbangkan material bangunan, PT Kahatex membantu dana sekaligus meminjamkan molen cor, sementara PT Insan Sandang turut berkontribusi dalam perbaikan jalan.
Ironisnya, secara administratif ruas jalan tersebut berada di Kampung Cipasir, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Statusnya merupakan jalan kabupaten yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Bandung, meski dalam praktiknya lebih banyak dimanfaatkan oleh warga Sumedang.
Bina menjelaskan, total panjang jalan rusak mencapai sekitar 250 meter. Pada 2024 lalu, pemerintah sempat melakukan perbaikan sepanjang 120 meter. Namun sisa ruas jalan yang telah diajukan perbaikannya belum juga ditangani hingga akhir tahun.
Baca Juga:Tolak Pembayaran Tunai Rupiah Bisa Dipidana, Banggar DPR Ingatkan Ancaman Penjara hingga Denda Rp200 JutaGeoteater Rancakalong jadi Panggung Hidup Budaya Sumedang, Tradisi Terus Bernapas di Tengah Zaman
“Ini murni gotong royong. Warga menyumbang tenaga, pikiran, dan biaya. Yang terpenting, jalan bisa dilalui dengan aman,” katanya.
Aksi warga Cintamulya menjadi potret kepedulian masyarakat terhadap keselamatan bersama. Di tengah keterbatasan dan menunggu kehadiran negara, warga memilih bergerak agar aktivitas sehari-hari tak lagi dibayangi rasa was-was.(kos)
