SUMEDANG EKSPRES – Karakteristik pengangguran di Kabupaten Sumedang menunjukkan tantangan serius di pasar kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang mencatat, meski tingkat pengangguran relatif stabil, kelompok lulusan pendidikan menengah masih mendominasi jumlah penganggur, sementara tingkat pengangguran tertinggi justru dialami lulusan pendidikan tinggi.
Dikutip dari berita resmi statistik pada (24/12/2025), Kepala BPS Kabupaten Sumedang, Sudiyanto, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, jumlah pengangguran di Sumedang tercatat sebanyak 37,44 ribu orang dari total angkatan kerja 616,12 ribu orang.
“Dari sisi pendidikan, pengangguran di Sumedang masih didominasi lulusan pendidikan menengah atau SMA/SMK,” kata Sudiyanto.
Baca Juga:Permintaan Bumbu dan Perlengkapan BBQ Meningkat Tajam Jelang Tahun Baru di SumedangCrispy, Pedas, Murah Meriah! Raja Gehu Pedas Jadi Jajanan Favorit di Cimalaka Sumedang
BPS mencatat, pada Agustus 2025, 56,40 persen pengangguran di Sumedang merupakan lulusan pendidikan menengah. Kondisi ini menunjukkan masih terbatasnya daya serap pasar kerja terhadap lulusan SMA/SMK, terutama di tengah penurunan sektor industri dan jasa.
Sementara itu, lulusan pendidikan dasar menyumbang 30,85 persen, dan lulusan pendidikan tinggi atau diploma ke atas sebesar 12,75 persen dari total pengangguran.
Meski secara jumlah tidak dominan, lulusan pendidikan tinggi mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi, yakni 11,21 persen. Angka ini jauh di atas TPT lulusan pendidikan menengah dan dasar.
“Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja,” jelas Sudiyanto.
Sebaliknya, TPT terendah justru terjadi pada lulusan pendidikan dasar, yakni 2,98 persen, mengindikasikan kelompok ini relatif lebih mudah terserap di sektor informal dan pertanian.
Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki di Sumedang tercatat 6,43 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang sebesar 5,42 persen. Meski demikian, dibandingkan Agustus 2024, TPT laki-laki mengalami penurunan, sementara TPT perempuan justru meningkat.
BPS juga mencatat terjadinya penurunan jumlah penduduk bekerja di sektor industri dan jasa. Lapangan usaha industri turun 24,87 ribu orang, sementara sektor jasa berkurang 15,20 ribu orang dibandingkan Agustus 2024.
Baca Juga:Hasil Drawing ACL Two 2025/26: Persib Bandung Tantang Ratchaburi FC di Babak 16 BesarPT MKS Mangkir dalam Audiensi DPRD Sumedang, LSM LIDIK Nilai Tak Hormati Fungsi Pengawasan
Kondisi ini dinilai turut berkontribusi terhadap terbatasnya penyerapan tenaga kerja, khususnya lulusan pendidikan menengah dan tinggi.
Sebaliknya, sektor pertanian justru mengalami peningkatan tenaga kerja sebesar 12,12 ribu orang, namun sektor ini cenderung menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah.
