Rp64 Miliar untuk Air Sawah, Bendung Cariang Jadi Harapan Baru Petani Ujungjaya

Rp64 Miliar untuk Air Sawah, Bendung Cariang Jadi Harapan Baru Petani Ujungjaya
Kondisi Bendung Cariang Kecamatan Ujungjaya, Sumedang.(istimewa)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, UJUNGJAYA, Air bagi petani bukan sekadar aliran sungai. Ia adalah penentu hidup, penyangga panen, dan batas antara sejahtera atau terpuruk. Di Kecamatan Ujungjaya, Sumedang, kisah tentang air itu telah lama tertahan oleh jebolnya Bendung Cariang, berdampak kerusakan yang membuat ribuan hektare sawah menggantungkan nasib pada cuaca.

Kini, penantian panjang itu mulai menemukan jawabannya. Pemerintah membangun Bendung Cariang secara permanen, mengakhiri solusi tambal sulam yang selama bertahun-tahun tak mampu memberi kepastian irigasi.

Bendung ini menjadi urat nadi bagi 1.603 hektare sawah yang tersebar di enam desa di Kecamatan Ujungjaya, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian Sumedang.

Baca Juga:Lahan Tanpa Kepastian, Konflik Tak Berujung: Jejak PT Subur Setiadi di PamulihanSengketa Lahan Pamulihan Sumedang Berlarut, Asep Kurnia Minta GTRA Turun Tangan

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir meninjau langsung lokasi bendung di Desa Ujungjaya, Rabu (14/1/2026). Di hadapan warga dan petani, ia menegaskan bahwa pembangunan Bendung Cariang bukan proyek biasa, melainkan jawaban atas aspirasi lama masyarakat.

“Beberapa tahun ke belakang bendung ini jebol. Alhamdulillah, mulai tahun ini dibangun secara permanen. Dari sini air mengaliri 1.603 hektare sawah,” ujar Dony.

Kerusakan Bendung Cariang selama ini memaksa petani hidup dalam ketidakpastian. Musim tanam kerap bergeser, hasil panen menurun, dan biaya produksi meningkat karena ketergantungan pada sumber air alternatif. Situasi ini perlahan menggerus produktivitas dan pendapatan petani.

Pembangunan bendung permanen senilai Rp64 miliar itu dirancang untuk mengakhiri kerentanan tersebut. Proyek ditargetkan rampung dalam dua tahun, dengan penyelesaian badan bendung pada tahun pertama. Saat ini, pekerjaan telah memasuki tahap awal berupa perakitan besi.

Meski pembangunan berjalan, pemerintah memastikan petani tidak kehilangan akses air. Melalui koordinasi dengan PSDA Provinsi Jawa Barat dan BBWS Cimanuk–Cisanggarung, aliran irigasi tetap dijaga menggunakan sistem kisdam atau tanggul sementara.

“Musim tanam kedua dan ketiga tetap aman. Memang belum nyaman karena masih proses pembangunan, tapi manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar,” kata Dony.

Lebih dari sekadar infrastruktur, Bendung Cariang membawa harapan besar bagi masa depan pertanian Ujungjaya. Dengan irigasi yang stabil, petani ditargetkan mampu panen hingga tiga kali dalam setahun, sebuah lompatan signifikan dibanding kondisi sebelumnya.

0 Komentar