SUMEDANG EKSPRES – Bagi Farikhin, bekerja selama sembilan tahun di PT Sumatraco bukan sekadar mencari nafkah. Perusahaan pengolahan garam yang berdiri di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Indramayu itu telah menjadi oase kehidupan bagi dirinya dan ratusan pekerja lainnya.
Farikhin (33), warga asli Desa Santing, mengaku telah menggantungkan hidupnya di PT Sumatraco sejak usia muda. Jarak pabrik yang hanya sekitar lima menit dari rumah membuatnya betah bekerja hingga kini.
“Arep mendi maning, Pak. Wis enakan kerja ning kene. Parek bari umah,” ujar Farikhin kepada media, Jumat (15/1).
Baca Juga:Pegawai SPPG Bisa Jadi PPPK, Tapi BKD Jabar Ungkap Fakta Penting IniNilainya Tembus Rp16 Miliar, Mahkota Binokasih Jadi Perhatian Utama Revitalisasi Keraton Sumedang Larang
Di pabrik pengolahan garam rakyat yang terletak di jalur Pantura tersebut, Farikhin mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari produksi hingga pekerjaan serabutan. Dari hasil kerjanya, ia bisa membawa pulang penghasilan harian minimal Rp50 ribu, bahkan bisa mencapai Rp1 juta saat produksi sedang ramai.
“Kuwen ari lagi sepi. Kadang ari lagi rame bisa punjul olih sejuta,” jelasnya.
Sebagian penghasilan itu ditabung Farikhin bersama sang istri. Tabungan tersebut rencananya akan digunakan untuk membangun rumah sederhana bagi anak dan istrinya.
“Duit sing perusahaan ikih ditabung go gawe umah. Padu cilikan bae, sing penting bagen anak rabi,” tuturnya.
Kisah serupa juga dialami Calam (49), buruh bongkar muat garam di PT Sumatraco. Pria yang telah bekerja lebih dari lima tahun ini menjadi tulang punggung bagi satu istri dan dua anaknya.
Setiap hari, Calam menunggu truk-truk pengangkut garam masuk ke area pabrik. Semakin banyak truk yang datang, semakin besar pula penghasilan yang bisa ia bawa pulang.
“Wis seneng kerja ning kene, Pak. Dominan wong Santing kerja e ning kene. Arep mendi maning,” kata Calam.
Baca Juga:Mahkota Emas 8 Kilogram Jadi Sorotan, Fadli Zon: Keraton Sumedang Larang Bukti Kejayaan SundaMenteri Kebudayaan Terpukau, Keraton Sumedang Larang Dinilai Simpan Sejarah Besar Nusantara
Meski saat ini Desa Santing dan sekitarnya tengah berkembang menjadi kawasan industri, Calam mengaku tidak tertarik berpindah kerja. Faktor usia menjadi pertimbangan utama.
“Kita mah ning kene bae. Bagen sing enom pada kerja ning kawasan industri,” ucapnya, yang diamini Farikhin.
Bagi Farikhin dan Calam, PT Sumatraco bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tumpuan hidup. Mereka mengaku tidak memiliki banyak pilihan jika pabrik pengolahan garam tersebut berhenti beroperasi.
