Mahkota Binokasih: Autentik di Tengah Api Sejarah, Dari Ancaman Kebakaran hingga Peneguhan Puser Budaya Sunda

Mahkota Binokasih Sumedang Larang
Mahkota Binokasih Sumedang Larang.(antara)
0 Komentar

Secara historis, Panjalu pada masa itu merupakan kerajaan kecil atau kerajaan vasal yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Galuh. Dari sanalah Mahkota Binokasih kemudian menjadi pusaka estafet kekuasaan raja-raja Sunda.

Namun menurut kajian sejarah yang berkembang di lingkungan Keraton Sumedang Larang, bentuk Mahkota Binokasih telah ditetapkan sejak awal pembuatannya. Perpindahan kekuasaan, perubahan zaman, hingga pergolakan politik tidak pernah mengubah wujud dasarnya.

Mahkota ini bukan sekadar perhiasan kepala. Ia adalah simbol legitimasi, penanda kesinambungan kekuasaan, dan representasi nilai-nilai luhur Sunda yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga:Film Dalam Sujudku Angkat Ujian Rumah Tangga LDR, Kisah Kesetiaan, Pengkhianatan, dan Doa Seorang IstriUKT Unpad Dipastikan Tidak Naik hingga 2029, Rektor Ungkap Skema Biaya dan Beasiswa Mahasiswa 2026

Artefak atau Sekadar Cerita?

Luky menegaskan, keberadaan fisik Mahkota Binokasih memiliki nilai yang sangat fundamental dalam kajian sejarah dan kebudayaan.

“Untuk merekonstruksi nilai sejarah, harus ada wujudnya. Bisa berupa artefak, manuskrip, atau prasasti. Tanpa itu, rekonstruksi hanya menjadi abstrak.”

Pernyataan ini menyoroti persoalan krusial dalam pelestarian sejarah Nusantara: banyak kisah besar yang kehilangan pijakan karena artefaknya lenyap.

Mahkota Binokasih menjadi pengecualian. Ia hadir sebagai bukti primer, bukan sekadar legenda lisan.

Puser Budaya Sunda dan Legitimasi Sejarah

Keberadaan Mahkota Binokasih di Sumedang bukan hanya kebanggaan lokal. Artefak ini menjadi salah satu dasar historis penetapan Sumedang sebagai Pusat Budaya Sunda.

Pada tahun 2009, Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi mendeklarasikan Sumedang sebagai puser budaya Sunda melalui kebijakan inovatif daerah. Penetapan ini tidak lahir dari klaim kosong.

“Jika Mahkota Binokasih tidak ada di Sumedang, tidak mungkin Sumedang ditetapkan sebagai pusat budaya Sunda,” tegas Luky.

Baca Juga:Terbongkar Jaringan Senjata Api Ilegal di Sumedang, Polda Metro Jaya Tangkap 5 Perakit dan PenjualTak Pernah Tercatat Sejarah, Tapi Karyanya Abadi, Inilah Sosok Empu Pembuat Mahkota Binokasih Sumedang Larang

Mahkota Binokasih menjadi sumber legitimasi, penguat identitas, sekaligus fondasi untuk merekonstruksi nilai-nilai budaya Sunda yang masih relevan dengan kehidupan hari ini.

Pusaka yang Hidup, Bukan Sekadar Dipajang

Di tengah modernisasi dan arus globalisasi, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake tidak diposisikan sekadar sebagai benda museum.

Ia dipandang sebagai simbol nilai-nilai kepemimpinan, kearifan, dan kesinambungan budaya. Nilai-nilai itu diharapkan tetap hidup–menjadi landasan moral, sosial, dan budaya masyarakat Sunda masa kini.

Dari nyaris dilahap api hingga menjadi pilar identitas budaya, Mahkota Binokasih membuktikan satu hal: sejarah yang dijaga dengan kesadaran akan bertahan, bahkan di tengah ancaman paling gelap sekalipun.(lai)

0 Komentar