Api, Ketakutan, dan Sebuah Pusaka yang Diselamatkan
SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Pada dekade 1960-an, Indonesia berada dalam fase paling rapuh dalam sejarah pascakemerdekaan. Gejolak keamanan terjadi di banyak daerah. Agresi militer, konflik bersenjata, hingga gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menciptakan rasa takut yang nyata di tengah masyarakat.
Di Sumedang, situasi itu bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga nyaris merenggut salah satu pusaka terpenting dalam sejarah Sunda: Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Di tengah kepanikan, keluarga Keraton Sumedang Larang mengambil keputusan sunyi namun menentukan. Mahkota Binokasih (simbol legitimasi raja-raja Sunda) diselamatkan dan disembunyikan di rumah keluarga. Tak ada pengawalan negara. Tak ada bunker khusus. Hanya keyakinan bahwa pusaka itu harus tetap hidup.
Baca Juga:Film Dalam Sujudku Angkat Ujian Rumah Tangga LDR, Kisah Kesetiaan, Pengkhianatan, dan Doa Seorang IstriUKT Unpad Dipastikan Tidak Naik hingga 2029, Rektor Ungkap Skema Biaya dan Beasiswa Mahasiswa 2026
Namun nasib berkata lain. Ketika kelompok bersenjata menyerang dan membakar rumah-rumah warga di kawasan Blok Cijeler–kini dikenal sebagai Jalan Prabu Geusan Ulun, api menjalar cepat. Rumah tempat mahkota disimpan ikut terbakar.
Mahkota Binokasih memang tidak dirampas. Tetapi ia sempat tersentuh api.
Bentuknya Tidak Pernah Berubah
Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang sekaligus Radya Anom Keraton Sumedang Larang, R. Luky Djohari Soemawilaga, mengungkapkan kisah itu dengan nada tenang. Baginya, justru di situlah letak kekuatan Mahkota Binokasih.
“Mahkota ini tidak dirampas dan tidak ditemukan. Saat itu disimpan di dalam kotak dan tersembunyi di bagian atas rumah. Memang sempat terkena kebakaran,” ujarnya.
Api meninggalkan jejak. Kerusakan ringan tak terelakkan. Namun Luky menegaskan, tak pernah ada renovasi yang mengubah bentuk, struktur, ataupun nilai asli mahkota.
“Bentuk mahkota itu dari awal sampai akhir sama. Tidak ada perubahan bentuk yang mendasar.”
Perbaikan yang dilakukan semata-mata bertujuan menjaga keutuhan fisik. Tidak ada tambahan ornamen. Tidak ada pengurangan simbol. Autentisitas dijaga sebagai prinsip tertinggi.
Dari Panjalu ke Sumedang: Jejak Panjang Sebuah Mahkota
Dalam banyak cerita rakyat, Mahkota Binokasih kerap dikaitkan dengan wilayah Panjalu, Kabupaten Ciamis. Sejumlah narasi menyebutkan bahwa mahkota tersebut dibuat atas perintah Prabu Bunisora, Raja Galuh.
