HIPPI Sumedang dan Jalan Panjang Membangun Kemandirian Ekonomi Umat

DPD HIPPI Kabupaten Sumedang
PELANTIKAN: Pengurus DPD HIPPI Kabupaten Sumedang mengikuti prosesi pelantikan di Gedung Negara Sumedang, Kamis (13/8).(Dok Sumeks)
0 Komentar

HIPPI… HAPPY!NIAGA… BERDAYA!DAKWAH… BERJAYA!

TIGA pekik itu menggema di Gedung Negara Sumedang, Kamis, 13 Agustus 2026. Suara para pengusaha itu menyusup di antara kursi-kursi yang mulai penuh. Sebentar lagi, pelantikan pengurus DPD Himpunan Pengusaha dan Profesional Persatuan Islam (HIPPI) Kabupaten Sumedang dimulai.

Mereka datang dengan pakaian yang seragam: jas biru, kaos, dan pin emas yang disematkan di dada. Topi melengkapi sebagian kepala. Jas menjadi pakaian. Pin menjadi tanda. Tapi pagi itu, keduanya terasa seperti simbol dari sesuatu yang lebih berat: amanah.

HIPPI… HAPPY!

Teriakan kembali pecah.

Nama organisasi itu dipelesetkan menjadi pekik kegembiraan. Di dalamnya ada pengusaha, profesional, dan orang-orang yang selama ini bergelut dengan dunia niaga. Namun sepertinya, saat itu mereka sedang memasuki ruang yang berbeda. Ruang organisasi. Ruang pengabdian.

Baca Juga:Wilujeng Rully Ginanjar, Hatur Nuhun Malik IdrisForum Ormas Sumedang Siapkan Sosialisasi LGBTQ di Gedung Negara

Tepuk tangan terdengar ketika nama pengurus disebut satu per satu. Kamera-kamera mengarah ke panggung. Tangan bersalaman. Wajah-wajah tersenyum.

Sebuah organisasi pengusaha sedang dilahirkan. Tapi yang kemudian dibicarakan bukan semata bagaimana menjual lebih banyak.

Ada satu kata yang berkali-kali muncul.

Umat.

Caretaker DPD HIPPI Sumedang, Nanang Cahyana, menyebut HIPPI bukan sekadar tempat berhimpunnya para pengusaha dan profesional saja. Organisasi itu, menurut dia, harus bergerak menjadi kekuatan ekonomi umat.

“Niaga berdaya, dakwah berjaya.”

Slogan itu terdengar sederhana. Namun dua kata di dalamnya membawa dua dunia yang selama ini acap ditempatkan berjauhan: niaga dan dakwah.

Nanang bahkan memilih kata yang lebih berat daripada keuntungan.

“Jangan mencari keuntungan, cari keberkahan, kekuatan dan keistimewaan.”

Dalam bisnis, keuntungan bisa dihitung. Angkanya bisa ditulis dalam buku kas, neraca, atau laporan keuangan.

Berkah tidak punya kolom khusus.

Ia mungkin muncul dalam bentuk usaha yang tetap bertahan ketika pasar sedang lesu. Pekerja yang menerima upah tepat waktu. Keluarga yang bisa membayar sekolah anak. Pedagang kecil yang perlahan naik kelas. Atau seorang pengusaha yang memiliki cukup rezeki untuk membuka pintu bagi orang lain.Di sanalah HIPPI hendak menempatkan dirinya.

0 Komentar