Tak Banyak yang Tahu, Mahkota Inilah Bukti Sumedang Pewaris Sah Sunda

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan warisan agung Kerajaan Sunda yang kini menjadi ikon sejarah dan daya tarik wisata budaya Kabupaten Sumedang.(Laila/Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Kabupaten Sumedang menyimpan salah satu warisan budaya paling agung dalam sejarah Tanah Sunda, yakni Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Bukan sekadar artefak, mahkota ini menjadi simbol kesinambungan kekuasaan dan peradaban Sunda dari masa Kerajaan Galuh hingga Sumedang Larang.

Mahkota Binokasih dibuat pada 1371 Masehi oleh Prabu Bunisora, Raja Galuh, sebagai lambang kebesaran kerajaan. Mahkota ini tercatat memiliki nilai historis tinggi karena menjadi penanda sahnya seorang raja Sunda dalam tradisi kerajaan.

Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang, R. Luky Djohari Soemawilaga, yang juga Radya Anom Keraton Sumedang Larang, menjelaskan bahwa mahkota tersebut awalnya bernama Mahkota Kasri sebelum dikenal luas sebagai Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Baca Juga:Kabel Semrawut dan Tiang Keropos di Pasar Parakanmuncang, Lemahnya Pengawasan dan Pemeliharaan DipertanyakanKabel Semrawut dan Tiang Miring Ancam Keselamatan di Pasar Parakanmuncang, Warga Tagih Tanggung Jawab PLN

Mahkota ini pertama kali dikenakan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana, putra Prabu Linggabuana yang gugur dalam Perang Bubat. Dalam sejarah, Prabu Niskala dikenal sebagai raja besar yang membawa keadilan, kemakmuran, dan stabilitas bagi rakyat Sunda.

Seiring perjalanan waktu, Mahkota Binokasih diwariskan secara turun-temurun kepada raja-raja Sunda, termasuk Prabu Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) yang menyatukan Kerajaan Galuh dan Sunda menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran (Bogor saat ini).

Hingga akhirnya, pada masa runtuhnya Pajajaran, mahkota kebesaran ini diserahkan kepada Kerajaan Sumedang Larang sebagai upaya menjaga kelangsungan simbol peradaban Sunda dan menghindari konflik berkepanjangan.

Peristiwa pamasrahan tersebut terjadi pada 22 April 1578, tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumedang.

Secara visual, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake terbuat dari emas murni 22 karat dan berbentuk Batara Indra, melambangkan kekuatan, perlindungan, dan perjuangan. Ragam hiasnya menampilkan bunga wijayakusuma, teratai, serta manuk julang, simbol kejayaan, kesucian, dan kebesaran Sunda.

Hingga kini, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake menjadi ikon budaya dan daya tarik wisata sejarah Sumedang, sekaligus bukti bahwa Sumedang Larang merupakan pusat penting kesinambungan peradaban Sunda.(lai)

0 Komentar