KASUS keracunan massal yang menimpa puluhan ibu dan balita di Kabupaten Cianjur mulai menunjukkan perkembangan positif.
Dari total 63 korban, sebagian besar kini telah pulih setelah mendapat penanganan medis. Hanya beberapa yang masih menjalani perawatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiwan, memastikan kondisi korban terus dipantau meski sudah diperbolehkan pulang.
Baca Juga:Tinju Jadi Tren Anak Muda Sumedang, 122 Peserta Ikuti Bupati Cup 2026Hidup QRIS
”Hanya tinggal beberapa yang masih menjalani perawatan,” ujarnya, seperti dilansir dari laman Antara, Senin (20/4/2026).
Peristiwa ini terjadi setelah para korban menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan melalui posyandu di dua desa di Kecamatan Leles, yakni Desa Purabaya dan Desa Sukasirna.
Gejala yang dialami korban umumnya serupa: pusing, mual, dan muntah.
Sebagian besar langsung mendapat penanganan di Puskesmas Leles, sementara lainnya dirawat di bidan dan klinik terdekat.
Untuk memastikan penyebab pasti, Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan yang tersisa, termasuk susu, serta sampel muntahan korban.
”Kami lakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan,” kata Made.
Hingga kini, hasil pemeriksaan masih ditunggu.
Kepala Puskesmas Leles, Tedi Nugraha, menyebutkan kondisi korban terus membaik.
Namun hingga Minggu petang, masih ada enam balita yang menjalani perawatan di puskesmas.
”Sebagian besar sudah membaik dan diperbolehkan pulang, tapi tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan di desa masing-masing,” jelasnya.
Baca Juga:Update Kasus Video Syur Lisa Mariana: Fakta Baru Terungkap, Polisi Menduga Ada Pesta Narkoba Sebelum RekamanPersib vs Dewa United: Tak Sekadar Duel Puncak dan Peringkat 8, Bojan Hodak Ingatkan Bahaya Tersembunyi
Sementara itu, Camat Leles, Segi Tabah Hermansyah, mengungkapkan pihaknya masih melakukan pendataan lanjutan.
Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor atau belum mendapatkan perawatan.
”Ditakutkan masih ada warga yang mengalami gejala, tapi belum terdata,” katanya.
Kasus ini menjadi perhatian serius, terutama terkait distribusi makanan bagi kelompok rentan seperti ibu dan balita.
Hasil uji laboratorium diharapkan segera mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut.(ant)
