HUJAN turun sejak siang, seperti biasa. Tapi sore itu, sesuatu berubah. Sungai Citarik tak lagi sekadar mengalir, ia meluap, melampaui tepi, lalu masuk ke rumah-rumah tanpa permisi.
Sekitar pukul 16.00 WIB, air mulai merangkak ke lantai warga di Kampung Leuwiliang, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung. Dalam hitungan waktu yang tak lama, genangan mencapai 30 hingga 60 sentimeter. Sebanyak 15 rumah terdampak. Enam jembatan ikut tenggelam. Tiga kolam warga tak lagi berbatas. Bahkan ruang belajar PAUD At Takbir ikut terendam.
Tak ada teriakan panik. Warga memilih bertahan. Menunggu air yang datang tiba-tiba itu pergi dengan sendirinya.
Baca Juga:Musim Berubah, Penyakit Mengintai: Dinkes Sumedang Siaga Hadapi Lonjakan KasusTugas Tanpa Jeda
Pelaksana Tugas Sekretaris Kecamatan Cimanggung, Yaya Sutarya, bersama Kasi Trantibum Didin Wahyudin turun ke lokasi. Mereka menyusuri genangan yang masih tersisa, memastikan kondisi warga, sekaligus memantau penanganan awal.
”Monitoring ini untuk memastikan kondisi di lapangan dan langkah awal berjalan,” ujar Yaya, kepada Sumeks, Senin 4 Mei 2026.
Hujan deras menjadi pemicu. Debit Sungai Citarik naik cepat, meluap ke wilayah RW 08 dan RW 09. Sungai itu, yang selama ini menjadi bagian dari keseharian, tiba-tiba berubah menjadi ancaman.
Banjir berlangsung singkat. Sekitar empat jam kemudian, air mulai surut. Menjelang pukul 19.00 WIB, genangan perlahan meninggalkan rumah-rumah, menyisakan lumpur, bau, dan jejak kerusakan.
Tak ada korban jiwa. Tak ada pengungsian. Tapi kerugian ditaksir mencapai Rp30 juta angka yang mungkin kecil di atas kertas, namun besar bagi warga yang terdampak.
Hingga malam, pendataan masih berlangsung. Pemerintah setempat berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sumedang dan Puskesmas Cimanggung, mengantisipasi dampak lanjutan yang sering datang diam-diam: penyakit, kerusakan lingkungan, dan kecemasan yang tertinggal.(kos)
