Oleh: Dr. ErnahDosen Fakultas Pertanian dan Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran, serta Ketua Umum PERHEPI Komisariat Bandung
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beriringan dengan penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) bukan sekadar isu makroekonomi yang ramai dibahas di ruang-ruang kebijakan.
Bagi masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, fenomena ini menjelma menjadi tekanan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:BKPRMI Gelar Haflah Musyahadah Ke 32Wamen ATR/Waka BPN dalam Raker Bersama DPR RI: Kawasan Hutan Harus Terintegrasi dengan Tata Ruang
Harga kebutuhan pokok meningkat, ongkos transportasi membengkak, dan daya beli rumah tangga perlahan tergerus. Dari perspektif teori ekonomi pertanian, dampak tersebut memiliki efek yang lebih luas karena sektor pertanian sangat sensitif terhadap perubahan biaya energi dan fluktuasi kurs.
Dalam ekonomi pertanian, terdapat konsep cost-price squeeze, yakni kondisi ketika biaya produksi meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan harga jual hasil pertanian. Kenaikan BBM secara langsung menaikkan ongkos produksi petani, mulai dari biaya pengolahan lahan, irigasi berbasis pompa, penggunaan mesin pertanian, hingga distribusi hasil panen.
Di saat yang sama, penguatan dollar AS menyebabkan harga berbagai input pertanian impor seperti pupuk, pestisida, benih unggul, dan alat mesin pertanian lebih mahal karena sebagian besar komponennya masih bergantung pada pasar global.
Akibatnya, petani menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi biaya produksi meningkat, sementara di sisi lain harga jual hasil pertanian tidak selalu naik secara proporsional.
Dalam struktur pasar pertanian Indonesia yang cenderung oligopsonistik, petani sering kali berada pada posisi tawar yang lemah sehingga tidak mampu mentransfer kenaikan biaya kepada konsumen akhir. Situasi ini berpotensi mengurangi margin keuntungan petani bahkan mendorong sebagian petani kecil mengalami kerugian usaha.
Dampaknya tidak berhenti di tingkat produsen. Dalam teori rantai pasok pertanian kenaikan biaya energi memicu efek berantai pada distribusi pangan. Biaya transportasi hasil pertanian dari desa ke pasar meningkat, demikian pula ongkos penyimpanan dan distribusi antardaerah.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakteristik biaya logistik yang tinggi sehingga kenaikan harga BBM akan lebih cepat diterjemahkan menjadi kenaikan harga pangan di pasar tradisional maupun modern.
