SUMEDANG EKSPRES – Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, Rektor IKOPIN University Agus Pakpahan mengajukan sebuah gagasan yang selama ini jarang menjadi perhatian publik: mengembalikan rice bran atau dedak padi sebagai bagian penting dalam strategi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia.
Menurut Agus, di balik butiran beras yang selama ini menjadi pangan pokok masyarakat, terdapat lapisan dedak yang justru menyimpan kekayaan nutrisi. Namun, potensi tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal karena lebih banyak diarahkan sebagai pakan ternak daripada pangan manusia.
Gagasan itu dituangkannya dalam tulisan berjudul “Ignoransi Rice Bran sebagai Sumber Nutrisi Berarti Tak Mensyukuri Pemberian Ilahi Rabbi: Streamlining BUMN Pangan untuk Pangan Bergizi sebagai Pengamalan Pasal 33 UUD 1945”, pada Minggu (2/8/2026).
Baca Juga:Program MBG SPPG Mandalaherang Jangkau 478 Penerima Manfaat di Desa Cibeureum Wetan SumedangJuara Piala Suratin U-17 Sumedang Tak Terima Piala, Askab PSSI: Anggaran Dialihkan ke Provinsi
Agus mengatakan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia memiliki peluang besar mengembangkan industri rice bran sebagai sumber pangan bergizi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian.
Menurutnya, dedak padi mengandung berbagai nutrisi penting, mulai dari protein, serat pangan, vitamin B kompleks, zat besi, seng, magnesium, hingga senyawa bioaktif seperti gamma-oryzanol, tocotrienol, dan fitosterol yang bermanfaat bagi kesehatan.
“Pemanfaatan rice bran perlu menjadi perhatian serius dalam kebijakan pangan nasional karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan berpotensi mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” ujarnya.
Belajar dari Sejarah Vitamin B1
Dalam paparannya, Agus juga mengingatkan kembali sejarah penemuan vitamin B1 oleh ilmuwan Christiaan Eijkman di Hindia Belanda. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya lapisan kulit ari beras dalam mencegah gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin.
Menurut Agus, temuan ilmiah itu seharusnya menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan pangan yang lebih mengedepankan pemanfaatan sumber nutrisi alami dibanding hanya mengandalkan fortifikasi sintetis.
Ia juga menyoroti kebijakan fortifikasi beras yang saat ini berjalan. Menurutnya, program tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh, baik dari aspek biaya, standar mutu, maupun efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Agus menilai kebijakan pangan nasional harus dibangun dengan prinsip efisien, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
