SUMEDANG EKSPRES – Sebuah perjalanan ke Cipanas Ciledre di kawasan Cibubuan, Kabupaten Sumedang, melahirkan renungan yang jauh melampaui keindahan alam. Bagi Wakil Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Sumedang, Sumirta, S.Hut., M.I.L., kunjungan itu justru memantik sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada organisasi yang ia cintai.
“Kiprah nyata apa yang telah diberikan ICMI Sumedang yang manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Sumedang?,” kata Sumirta, Senin 3 Agustus 2026.
Pertanyaan itu, kata Sumirta, bukan untuk memancing polemik atau saling menyalahkan. Sebaliknya, ia menyebutnya sebagai bentuk autokritik, sebuah refleksi agar organisasi para cendekiawan tidak berhenti pada diskusi, tetapi hadir melalui karya yang memberi dampak nyata.
Baca Juga:Rektor IKOPIN University Dorong Rice Bran Jadi Solusi Gizi Nasional, Usulkan Reformasi Kebijakan PanganProgram MBG SPPG Mandalaherang Jangkau 478 Penerima Manfaat di Desa Cibeureum Wetan Sumedang
“Cipanas Ciledre mengajarkan bahwa potensi daerah tidak akan berkembang hanya dengan wacana. Dibutuhkan kolaborasi, pendampingan, dan aksi nyata agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Hidden Gem yang Menunggu Sentuhan
Menurut Sumirta, Cipanas Ciledre merupakan salah satu hidden gem di Kabupaten Sumedang yang memiliki peluang besar dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal.
Ia meyakini kawasan tersebut bukan hanya memiliki nilai wisata, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan warga setempat.
Karena itu, ia mengusulkan agar kawasan tersebut dijadikan proyek percontohan ICMI Orda Sumedang sebagai bentuk pengabdian organisasi kepada masyarakat.
“Bukan sekadar menghasilkan rekomendasi, tetapi menghadirkan program yang bisa dilihat, dirasakan, dan memberi manfaat langsung,” katanya.
ICMI Harus Hadir Melalui Bil Lisan, Bil Qalam, dan Bil Hal
Sumirta menilai ICMI sebagai organisasi cendekiawan memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi melalui pemikiran, penelitian, advokasi, hingga aksi nyata.
Baginya, peran organisasi harus diwujudkan melalui bil lisan (gagasan), bil qalam (tulisan), dan bil hal (tindakan nyata), sehingga nilai-nilai kecendekiawanan benar-benar memberi solusi atas persoalan masyarakat.
Baca Juga:Juara Piala Suratin U-17 Sumedang Tak Terima Piala, Askab PSSI: Anggaran Dialihkan ke ProvinsiKompak Kenakan Baju Pink, Ibu-Ibu Dania Semarakkan Senam Agustusan di Cikalong
Menurutnya, keberadaan organisasi akan memiliki makna apabila masyarakat dapat merasakan manfaat dari program-program yang dijalankan.
Berpengalaman dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Di luar aktivitas organisasi, Sumirta merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai Perencana Fungsional pada Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumedang.
