Tugas Tanpa Jeda

Syarif Effendi Badar
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumedang, Syarif Effendi Badar
0 Komentar

Sirene meraung, waktu seakan menyempit, dan api tak pernah memberi jeda. Di titik itulah Syarif Effendi Badar berdiri: memimpin Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumedang dengan satu kesadaran sederhana: dalam setiap detik yang lewat, selalu ada yang dipertaruhkan.

Oleh: Engkos Koswara

SIRENE itu tak pernah benar-benar asing baginya. Kadang terdengar seperti panggilan, kadang seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang tak boleh ditunda. Di halaman kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumedang, suara itu bisa pecah kapan saja, memecah jeda, membelah rutinitas.

Di tengah riuh yang datang tiba-tiba itu, Syarif Effendi Badar berdiri dengan cara yang tenang.

Baca Juga:Cator Uzur di Tengah Tumpukan SampahPengawasan Dahulu, Bangunan Kemudian, Puskesmas DTP Cimanggung Masih Misteri

Ia tak banyak bicara. Tapi dari caranya memandang, terlihat satu hal: ia tahu betul bahwa setiap detik bisa berarti sesuatu bisa menyelamatkan, bisa juga terlambat.

Sejak dilantik pada 22 Januari 2026 sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumedang, Syarif tak benar-benar memulai dari nol. Ia hanya berpindah medan. Dari ruang-ruang birokrasi yang tertib, ke wilayah yang lebih cair dan kadang tak terduga.

Namun, perjalanan ke titik itu bukan jalan yang singkat.

Bertahun-tahun sebelumnya, Syarif memulai dari tempat yang jauh lebih sunyi: kelurahan. Di sana, ia mengenal masyarakat bukan dari laporan, melainkan dari wajah-wajah yang datang langsung membawa persoalan. Dari urusan administrasi sederhana hingga konflik kecil yang kadang menyimpan persoalan lebih dalam.

Waktu berjalan. Ia berpindah, naik, belajar. Dari Sekretaris Kecamatan Jatinangor, lalu dipercaya menjadi camat di Jatinangor, kemudian di Sumedang Selatan. Dua wilayah dengan dinamika berbeda, tapi menyisakan pelajaran yang sama: bahwa pelayanan publik bukan sekadar prosedur, melainkan kehadiran.

Sempat pula ia berada di Satuan Polisi Pamong Praja. Pada masa itu, pemadam kebakaran belum berdiri sendiri. Ia masih menjadi bagian dari satu tubuh besar yang menangani ketertiban. Damkar, saat itu, adalah satu bidang di antara banyak urusan lain.

Struktur itu berubah perlahan. Regulasi datang, penataan dilakukan, hingga akhirnya Damkar berdiri sebagai dinas tersendiri. Sebuah pemisahan yang bukan hanya administratif, tetapi juga filosofis bahwa urusan keselamatan membutuhkan fokus yang utuh.

0 Komentar