Relawan pemadam pun kembali dihidupkan. Sebuah upaya untuk memperluas jangkauan, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa keselamatan bukan hanya tugas petugas.
Namun, pekerjaan Damkar hari ini tak lagi berhenti pada api.
Laporan warga datang dengan wajah yang beragam. Sarang tawon di atap rumah. Ular berbisa yang masuk ke permukiman. Bahkan king cobra yang panjangnya mencapai lebih dari tiga meter pernah ditangani. Dalam satu malam, tim bisa bergerak ke dua atau tiga lokasi berbeda.
Di situlah peran Damkar meluas dari pemadam menjadi penyelamat.
“Apapun kedaruratannya, Damkar harus hadir,” kata Syarif.
Kalimat itu seperti menegaskan arah yang ia pilih.
Di tengah segala keterbatasan, ia tetap menyimpan rencana. Relokasi kantor agar lebih representatif. Penambahan armada. Penguatan pos di wilayah rawan. Semua disusun, menunggu waktu dan dukungan untuk diwujudkan.
Baca Juga:Cator Uzur di Tengah Tumpukan SampahPengawasan Dahulu, Bangunan Kemudian, Puskesmas DTP Cimanggung Masih Misteri
Namun pada akhirnya, Syarif tampaknya memahami satu hal yang tak tertulis dalam rencana mana pun: bahwa pekerjaannya akan selalu berada di antara dua hal yang tak bisa ditawar api dan waktu.
Api yang bisa muncul kapan saja.
Waktu yang selalu berjalan tanpa menunggu.
Dan di antara keduanya, ia memilih untuk tetap berdiri.(kos)
