Dan di titik itulah, Syarif Effendi Badar ditunjuk.
Namun, jabatan baru itu datang tanpa kemewahan.
Armada yang tersedia tak sepenuhnya siap. Dari enam unit kendaraan, sebagian masih dalam perbaikan. Ada yang berusia puluhan tahun, tetap dipakai karena tak ada pilihan lain. Selang, pompa, hingga alat pelindung banyak yang menua bersama waktu, sementara kebutuhan terus bertambah.
Syarif tak menutup mata pada kenyataan itu. Tapi ia juga tak menjadikannya alasan untuk berhenti.
“Harus siap,” katanya suatu waktu, singkat, tanpa penekanan berlebih.
Baca Juga:Cator Uzur di Tengah Tumpukan SampahPengawasan Dahulu, Bangunan Kemudian, Puskesmas DTP Cimanggung Masih Misteri
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di lapangan, ia menjelma tuntutan yang tak ringan.
Sebab kebakaran tak pernah memilih waktu. Ia bisa datang di tengah malam, di gang sempit, di kawasan industri, atau di permukiman padat yang bahkan kendaraan besar sulit menjangkau. Dalam situasi seperti itu, kesiapan bukan lagi soal kelengkapan, melainkan keberanian untuk tetap bergerak.
Di balik layar, persoalan lain menunggu. Jumlah personel belum ideal. Satu regu kadang hanya diisi lima hingga tujuh orang, padahal kebutuhan bisa jauh lebih besar. Pos pemadam tersebar, tapi belum semuanya kuat menopang wilayahnya masing-masing.
Namun Syarif memilih jalan yang ia kenal sejak lama: membangun, sedikit demi sedikit.
Pelatihan diperbanyak. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah personel yang dikirim mengikuti pendidikan terus meningkat. Tahun demi tahun, angka itu naik seolah menjadi penanda bahwa keterbatasan tak boleh menghambat peningkatan kapasitas.
Peralatan pun mulai dilengkapi. Tak sekaligus, tapi bertahap. Apa yang bisa diperbaiki, diperbaiki. Apa yang bisa ditambah, diupayakan.
Di luar itu, ia melihat satu hal yang tak kalah penting: masyarakat.
Baca Juga:Puskesmas DTP Cimanggung Mandek, DPRD Sumedang: Jangan Terus Jadi Wacana!Janji Puskesmas DTP Cimanggung Tak Kunjung Nyata
Bagi Syarif, kebakaran sering kali bukan sekadar peristiwa, melainkan akumulasi dari kelalaian kecil yang dibiarkan. Korsleting listrik, lilin saat listrik padam, instalasi yang tak terawat hal-hal yang tampak sepele, tapi bisa berujung pada api yang tak terkendali.
Karena itu, ia mendorong sosialisasi. Hampir setiap hari, tim bergerak. Dari desa ke desa, dari kantor pemerintahan hingga perusahaan. Simulasi dilakukan, edukasi diberikan, dengan harapan sederhana: mencegah sebelum memadamkan.
