KIRAB Budaya Milangkala Tatar Sunda berjalan khidmat. Iring-iringan panjang, kostum adat, dan simbol sejarah bergerak perlahan di antara ribuan warga yang memadati jalan. Semua tampak teratur, hingga sebuah momen mengubah arah perhatian.
Seorang anak kecil melangkah ke depan.
Ia adalah Ni Hyang Sukma Ayu, putri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Tanpa ragu, ia mengambil mikrofon dari tangan ayahnya. Suaranya lantang, sederhana, tapi tegas.
”Ini bukan di rumah, ini lagi di luar. Balam mulutnya. Ni Hyang lagi bicara.”
Baca Juga:Pasar Lama, Janji Baru yang Belum TibaDapur Gizi Sumedang jadi Etalase, Daerah Lain Datang Belajar
Warga yang semula riuh mendadak tenang. Sebagian tersenyum, sebagian lain tertawa kecil. Tapi tak ada yang benar-benar mengabaikan.
Lalu ia berbicara tentang hal yang jarang terdengar di panggung resmi: sawah, danau, gunung, laut. Tentang belut, tutut, lele, hingga hiu. Ucapannya terdengar seperti permainan anak-anak ringan, tanpa beban.
Namun justru di situlah daya pukau itu muncul.
Di tengah perayaan budaya yang sarat simbol dan sejarah, Ni Hyang menghadirkan sesuatu yang lebih dasar: hubungan manusia dengan alamnya. Tanpa istilah besar, tanpa retorika panjang.
Di sampingnya, Dedi Mulyadi mencoba menerjemahkan. Ia menyebut apa yang disampaikan anaknya sebagai bentuk “kemasukan” bukan dalam arti mistis, melainkan penyatuan.
Penyatuan antara manusia dengan alam, antara hidup dengan maknanya. Gunung yang harus tetap berhutan, air yang mengalir, sawah yang memberi kehidupan semua terhubung dalam satu siklus yang sederhana, tapi sering dilupakan.
Momen itu singkat. Tapi cukup untuk menggeser fokus: dari mahkota, dari kirab, dari sejarah Panjang ke suara kecil yang mengingatkan hal paling mendasar.
Di tengah ribuan orang, tanpa protokol, tanpa naskah, Ni Hyang berbicara. Dan orang-orang mendengarkan.(red)
